Kamis, 14 Agustus 2014

Perselingkuhan Terakhir - BAB V



Bab V

Perasaan Wafa campur aduk. Ciuman di pipinya tadi malam tidak bisa hilang dari ingatannya. Itu ciuman pertama dari suaminya dan rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Dia menyentuh pipinya dan merasakan cinta yang begitu dalam. Walaupun dia sendiri sebelumnya sudah pernah mencium Endra, tetapi perasaan saat dicium sangatlah berbeda dengan mencium.  Terlebih lagi, suasana tadi malam dan lembutnya tatapan Endra membuat Wafa melayang.

Namun, masih ada rasa takut dalam hati Wafa. Ia takut jika hanya dia yang merasakan kebahagiaan ini sedangkan Endra hanya menganggapnya ciuman biasa. Bukankah saat ini ciuman di pipi sudah menjadi gaya hidup orang perkotaan? Biasanya disebut cipika cipiki. Sudah tidak ada lagi rasa malu bagi seorang laki-laki untuk mencium perempuan yang bukan muhrimnya, begitu pula sebaliknya. Yah, gaya hidup dunia barat memang telah banyak mempengaruhi kehidupan negara yang dikatakan sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Banyak yang tidak menganggapnya dosa karena dianggap tidak ada nafsu saat mereka melakukannya. Ciuman di pipi hanya dianggap sebagai ungkapan salam.

Bagaimana jika ciuman tadi malam memang hanyalah ucapan selamat malam? Dengan istri yang banyak, tentunya sudah ribuan kali Endra mencium pipi perempuan. Dengan kenyataan bahwa Endra tidak mengetahui bahwa yang diciumnya tadi malam adalah istrinya sendiri, sangat besar kemungkinan bahwa Endra melakukannya sebagai kebiasaan yang dilakukannya pada perempuan-perempuan lain.

Pikiran Wafa terus saja dipenuhi prasangka. Yang lebih buruk adalah prasangka jika ciuman itu sebuah ciuman perpisahan. Endra kan mengatakan kalau dia tidak bisa menemuinya hari ini. Itu seperti sebuah tanda jika Endra tidak akan menemuinya lagi selama-lamanya. Tadi malam kan Endra tiba-tiba langsung ingin pulang saat ditanya tentang pekerjaan. Mungkinkah Endra tersadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dan membuang-buang waktunya yang berharga? Wafa menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengingatkan Endra tentang pekerjaan.

Memang Endra mengatakan akan menghubunginya hari ini. Tapi Wafa tau pasti bahwa banyak sekali pria menggunakan janji tersebut sebagai ucapan selamat tinggal. Oleh karena itu, Wafa tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Dia begitu gelisah menunggu telepon dari Endra. Sudah jam lima sore dan belum ada panggilan atau bahkan SMS dari Endra. Jika Endra tidak menelepon, berarti semua berakhir dengan cerita sedih.

Ditempat lain Endra begitu sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk. Harus diakui bahwa kencannya dengan Wafa beberapa hari ini memang sedikit mengganggu jadwal kerjanya sehingga banyak kerjaan yang terabaikan.

“Kamu nggak kencan sama gadis spesial kamu?” Sigra langsung masuk ruangan Endra tanpa mengetuk.

“Nggak.” Endra menjawab singkat sambil terus bekerja dengan laptopnya.

“Tumben, biasanya jam segini udah ga sabar mau kencan. Udah ilang nafsunya?” Sigra yang tidak pernah berhenti dengan sindirannya duduk di depan meja Endra.

“Aku harus meeting.” Endra masih saja sibuk dengan laptopnya.

“Masih peduli sama kerjaan?” Sigra memperhatikan dokumen-dokumen yang berantakan di meja.

“Kerjaan itu nomor 1.”

“Berarti Wafa nomor 2 dong? Kasian… Kalau tau, dia pasti nangis sekarang.” Sigra memperlihatkan muka yang dibuat sedih.

“Ya ampun.” Endra menjadi teringat dengan janjinya. Pasti Wafa sedang menunggu telponnya saat ini. Dia segera mengambil handphonenya. Tapi sebelum menelpon, “Awas aku dah janji mau telfon Wafa.” Endra mengusir Sigra.

Sigra menunjuk dirinya sendiri.

“Iya .. keluar sana.” Bukan hanya mulut, tangan Endra pun memperlihatkan pengusiran.

Sigra melangkah keluar. Sungguh aneh. Biasanya Endra justru senang menelpon wanita di depan Sigra. Endra senang memamerkan kemesraannya dengan wanita. Tapi kali ini… dia ingin privacy.

Wafa yang sedari tadi menunggu dengan khawatir begitu gembira melihat siapa yang menelponnya. Dia sampai melompat ketika melihat nama Endra di layar handphonenya. Kegelisahannya langsung hilang seketika.

“Halo.” Wafa menjawab dengan setenang mungkin. Dia berusaha keras menahan emosinya yang meluap.

“Hai.”. Suara Endra terdengar sangat menggetarkan hati. “Maaf ya baru sempat nelfon. Kerjaan aku banyak banget.”

“Katanya mau video call.” Wafa protes seperti anak kecil.

“Hah? Oooh..video call ya? Lupa.. tadi soalnya buru-buru.”

“Buru-buru apa?”

“Buru-buru mau denger suara kamu yang manis.” Rayuan Endra pun dimulai.

“Gombal mulu. Dalam sungutannya, Wafa bahagia dengan gombalan Endra.

“Ya udah.. aku matiin dulu, nanti aku video call.”

“Ehh jangan.. “ Wafa segera mencegah Endra.

“Yang protes tadi siapa ya?”

“Bukan protes, cuma tanya.”

“Emang kamu nggak pengen liat aku?” Goda Endra.

“Mmmm… denger suara kamu udah cukup kok.” Wafa menjawab malu-malu. Dia takut jika Endra melihat wajahnya saat ini, akan terlihat sekali kegugupannya. Bisa dipastikan rencananya untuk menaklukkan Endra gagal karena Endra terlebih dahulu menaklukkannya.

Aku yang pengen liat kamu. Endra berpikir sebentar. “Kamu kalau tidur jam berapa?”

“Kok tiba-tiba nanyain tidur? Emang mau ngapain?”

“Gimana ya ngomongnya… ehmmm… aku kan ada meeting sampe malem. Ya kira-kira sampe jam sepuluh lah. Kalau jam sebelas kamu belum tidur, aku mau kesana.”

Wafa lebih terkejut lagi. Endra akan datang jam sebelas malam? Untuk apa? Wafa tidak bisa menjawab, dia terdiam tanpa kata.

“Haloo…” Endra memanggil Wafa yang tidak kunjung menjawab.

“Eh… e..mang.. mau.. ngapain?” Wafa terbata. Jantungnya berdetak kencang.

“Mau ngeliat muka kamu.”

“Habis liat muka aku ngapain?” Dengan jantung yang masih berdetak kencang, kegugupan Wafa bertambah karena Endra tidak kunjung menjawab.

“Pulang.” Endra akhirnya menjawab setelah berpikir sebentar.

“Gitu doang?” Wafa berpikir apa dirinya yang kurang bergaul sehingga tidak percaya bahwa ada seorang laki-laki yang datang berkunjung ke tempat seorang perempuan di tengah malam hanya untuk melihat wajah perempuan itu.

Endra juga merasa aneh dengan keinginannya yang tidak kuasa ditahannya. Namun, dia tidak ingin menunjukkan perasaannya. Endra memilih untuk menggoda Wafa. “Emang kamu mau lebih?”

“Ya .. ya nggak lah… Endra apaan sih … mikirnya macem-macem.” Muka Wafa memerah. Untung tidak ada orang didekatnya.

“Kalau ngeliat kamu aja nggak cukup, harus macem-macem dong.” Endra begitu senang menggoda Wafa yang mudah sekali menjadi salah tingkah saat digoda. Andai saja dia bisa melihat muka Wafa, tentunya akan lebih seru lagi.

“Endra.. aaaahh.”

“Macem-macem kan bisa banyak hal. Misalnya kamu masakin aku lagi, nonton TV, denger lagu,… banyak kan?” Jelas sekali jika Endra memang jauh lebih berpengalaman dan pintar.

“Tau ah…” Wafa menyerah.

Endra tertawa lepas. “Jadi gimana?”

“Apanya yang gimana?” Wafa benar-benar tidak bisa berpikir. Otaknya seketika menjadi kosong.

“Kamu masih bangun nggak?”

Bodoh kalau sampai Wafa berkata ‘tidak’, tetapi mulutnya tidak sanggup untuk berkata ‘iya’.

“Wafa….?”

“Iya.. iya.. aku masih bangun.” Wafa memberanikan diri.

“Oke… sampe nanti malem ya sayang…. Udah dulu ya … aku harus siap-siap meeting lagi.”

***

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan Wafa masih gelisah menunggu datangnya sang pujaan hati. Jangan-jangan Endra mengubah pikirannya dan tidak jadi datang. Jarak kantor Endra dengan apartemennya tidak terlalu jauh dan malam seperti ini tentunya sudah tidak macet.

Tidak ada satupun acara TV yang menarik perhatiannya. Koleksi filmnya sudah ditonton semua. Wafa juga tidak ingin mendengar lagu. Yang ada dipikirannya hanya Endra, tetapi pria itu tidak kunjung datang.

Sementara itu Endra baru saja menyelesaikan meeting yang ternyata berjalan di luar rencananya. Kliennya kali ini sangat sulit untuk ditaklukkan. Ia melihat jamnya. Setengah dua belas, berarti dia sudah terlambat setengah jam. Kalau dia berangkat sekarang, mungkin dia bisa sampai jam 12. Tetapi apa tidak terlalu malam?

Endra tidak peduli. Dia hanya ingin bertemu Wafa. Kalau ternyata Wafa sudah tidur ya sudah. Dia menyalakan mobilnya dan segera meluncur ke apartement Wafa.

Wafa tertidur di sofa saat bel berbunyi. Dia terbangun dan langsung berdiri dengan penuh semangat karena dia yakin yang datang adalah Endra. Dirapikannya rambutnya dan segera melangkah ke pintu. Dia menarik nafas dalam-dalam dan melihat dari lubang pintu untuk memastikan bahwa itu adalah Endra. Yap… dialah sang pangeran yang ditunggu.

Tanpa kata-kata Endra langsung memeluk Wafa setelah pintu terbuka. Setelah telpon tadi, dia begitu merasakan rindu walaupun baru satu hari mereka tidak bertemu. Wafapun merasakan hal yang sama dan terlupa bahwa saat ini seharusnya dia menahan diri karena Endra masih belum mengetahui bahwa ia adalah istrinya.

Setelah beberapa lama, Endra melonggarkan pelukannya. “Maaf ya aku telat. Tadi meetingnya alot banget. Kamu udah tidur ya?”

“Nggak papa kok. Yang penting kan kamu dateng.” Wafa menatap Endra. Dilihatnya wajah Endra begitu lelah. “ Kamu kelihatan cape banget.”

“Meetingnya banyak banget dari tadi pagi.” Kata Endra sambil membelai rambut Wafa yang begitu halus.

Wafa teringat bahwa Endra hanya ingin melihat wajahnya dan pulang, tetapi sepertinya Endra terlalu lelah untuk menyetir saat ini. “Kamu bawa supir?”

“Enggaklah. Emang kenapa?”

“Kalau kamu harus nyetir sekarang nanti takutnya ada apa-apa di jalan.” Wajah Wafa terlihat khawatir.

“Trus?”

“Masuk dulu yuk. Istirahat bentar. ” Wafa memegang tangan Endra mengajaknya masuk ke dalam apartemen.

“Kamu mau macem-macem ya?” Endra tersenyum genit.

“Endraaaa….Ya udah sana pulang aja.” Wafa kesal sekali dengan godaan Endra.

“Gitu aja ngambek.” Endra menggenggam tangan Wafa. “Aku pulang aja ya.. udah malem banget. Kalau masuk, nanti aku nggak mau pulang” Endra kembali tersenyum genit.

Wafa salah tingkah. “Ya..ya udah deh kalau maunya gitu.”

“Sayang….” Endra menyentuh wajah Wafa dengan lembut sehingga membuat jantung Wafa berdetak kencang lagi seperti semalam.

Endra mencium kening Wafa dan pergi meninggalkan Wafa yang masih kesulitan untuk menormalkan kembali detak jantungnya.

Saat melangkah pergi, Endra tidak menyangka bisa melakukan hal seperti ini. Mendatangi wanita tengah malam hanya untuk melihat wajahnya dalam beberapa menit dan dia sudah puas dengan itu.

***

Keesokan harinya Sigra mendatangi ruangan Endra untuk menyerahkan beberapa berkas. Dia melihat sepupunya sedang melamun.

“Pasti lagi ngelamunin gadis cantik desainer muda.” Sigra menebak sambil meletakkan berkas di atas meja Endra.

Endra yang tidak menyadari bahwa sepupunya ada di ruangannya terkejut dan menoleh. “Hehh?”

“Kalau orang sedang jatuh cinta, dunia hanya milik berdua.” Sigra tersenyum sambil berusaha menahan tawa.

“Siapa yang jatuh cinta?” Endra mengambil berkas yang diletakkan Sigra dan memeriksanya.

“Aku jadi pengen ketemu sama dia, siapa namanya? Wafa?”

“Boleh.” Endra menganggukkan kepalanya.

“Semangat banget.” Sigra memutar kepalanya dan memperhatikan ruangan Endra. “Kok nggak ada fotonya?”

“Ngapain taro foto disini.” Endra yang tersenyum langsung muram.

“Kalau jatuh cinta kan pengennya liat terus.” Sigra tidak bisa menahan tawanya.

“Aku tidak jatuh cinta.” Nada suara Endra meninggi.

“Oke-oke..” Sigra mengangkat kedua tangannya. “Jadi kapan aku bisa ketemu dia?”

“Besok gimana? Nonton di rumah aku?”

“Boleh. Jam sepuluhan ya?”

“Jangan lupa ajak Yuvi”

“Oke boss.” Sigra meninggalkan ruangan Endra.

Malamnya Endra mengunjungi butik Wafa dan melihat wanita pujaannya sibuk menata koleksi terbarunya.

“Besok kamu ada acara nggak?” Endra bertanya sambil memperhatikan Wafa yang sibuk memindahkan gantungan baju.

“Ya … kalau malem ini beres-beresnya selesai, besok aku bebas.” Jawab Wafa tanpa menoleh.

“Kalau gitu harus selesai malem ini.” Nada bicara Endra santai tetapi gaya bossy nya tidak hilang.

“Perasaan yang boss disini aku deh. Kamu kalau mau ngatur, perusahaan kamu aja.” Kali ini Wafa menoleh dan menatap tajam mata Endra.

“Gitu aja marah.” Endra merajuk untuk meredam emosi Wafa.

“Emang ada apa besok?” Wafa masih emosi. Sebenarnya dia tidak suka diganggu saat bekerja sehingga perkataan Endra yang sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa menjengkelkan.

“Sepupu aku pengen kenal sama kamu. Kalau kamu bisa, besok jam sepuluh kita nonton.”

“Sepupu kamu?” Wafa menoleh. Dia mulai tertarik dengan pembicaraan ini.

“Iya.. namanya Sigra. Dari kecil kita deket. Udah kayak kakak ade kandung.”

Wafa tertarik mendengar hal tersebut. Dia belum pernah bertemu dengan Sigra, tapi dia tahu dari Kesara kalau Sigra itu adalah sepupu yang sangat dekat dengan Endra karena umur mereka tidak berbeda jauh dan mereka selalu satu sekolah sejak kecil. Ini bisa menjadi jalan untuk mengenal Endra lebih jauh lagi. “Oke. Kamu jemput aku?”

“Yap, tapi jam sembilan udah siap ya. Kan janjian sama Sigra jam sepuluh.”

“Oke.”

Pagi harinya, Endra menjemput Wafa yang tampil santai dengan kaos lengan pendek dan jins. Sementara Endra mengenakan kemeja dan celana panjang.

“Kok rapi banget. Bukannya kita mau nonton ya?” Wafa merasa salah kostum dan merasa tidak yakin dengan tampilannya.

“Ohh tadi aku ada meeting dulu sama rekanan.” Jawab Endra sambil berjalan menuju tempat parkir.

“Katanya Sabtu libur, lagian pagi banget meetingnya?”

“Dia mau pergi ke Padang, pesawat jam 9, jadi tadi aku ketemuan jam 7 di bandara.”

“Buset.. segitunya ya bisnis.” Wafa hanya bisa menggelengkan kepala.

Endra tersenyum. Dia memperhatikan Wafa dan dirinya sendiri. Gaya santai Wafa memang tidak cocok dengan gayanya saat ini. Agar tidak terlalu formal, dia menggulung lengan kemejanya.

Endra melihat Wafa tersenyum melihatnya. “Kok senyum-senyum sih?” Endra melihat dengan curiga.

“Enggak.” Wafa berusaha berbohong.

“Kamu bukan orang yang pintar berbohong.” Endra menghentikan langkahnya.

“Enggak..mm.. aku cuma suka aja sama cowok yang pake kemeja terus lengannya digulung gitu.” Wafa tersenyum manis sekali.

“Hah?” Endra tidak percaya.

“Beneran. Aku dari dulu suka banget kalau liat cowok gitu. Kerennnn gitu loh.”

“Harus kemeja digulung gitu?” Endra masih tidak percaya.

“Iya kemejanya lengan panjang, terus digulung.”  Wafa mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau lengan panjang nggak digulung nggak suka?”

“Terlalu formal. Kalau digulung tuh keliatannya rapi tapi santai.”

“Kalau lengan pendek?”

“Kaya bapak-bapak.”

Endra tertawa. “Berarti besok kalau aku ketemu kamu pake kemeja lengan digulung aja ya?

“Perfect.” Wafa menggandeng lengan Endra dan melanjutkan berjalan ke tempat parkir.

Endra heran, hanya sekedar menggulung lengan kemeja saja sudah bisa membuat Wafa tersenyum. Mudah sekali membuat wanita ini bahagia.

Tidak seperti perkiraan Wafa, Endra ternyata membawa Wafa ke rumahnya. Wafa pun menjadi  bingung. “Kok ke rumah kamu? Mau ganti baju dulu?”

“Ngapain ganti baju, kan kamu sukanya begini?” Endra memarkirkan mobilnya. “Kita nontonnya disini.”

“Nonton DVD gitu maksudnya?”

“Blu Ray dong sayang… hari gini DVD.” Endra membuka pintu dan segera berlari untuk membukakan pintu Wafa.

“Ya terserah lah.. yang penting kan di rumah, bukan di bioskop.” Wafa keluar mobil dan mengikuti Endra berjalan ke rumah.

“Enakan di rumah, lebih bebas.”

Belum sampai mereka masuk ke dalam rumah, terdengar suara mobil datang. Sigra datang bersama Yuvi, istrinya.

“Ini dia pasangan cinta sejati kita.” Endra menyambut sepupunya.

Sigra hanya tersenyum sambil menatap Wafa.

“Wafa ini Sigra dan istrinya Yuvi, guys ini Wafa.” Endra memperkenalkan.

“Hai. Wafa.” Wafa mengulurkan tangan pada Sigra.

“Aku Sigra.” Sigra menjabat tangan Wafa.

“Hai. Yuvi”. Giliran Yuvi yang menjabat tangan Wafa.

“Kayaknya pernah ketemu deh.” Sigra merasa mengenal wajah Wafa walaupun sedikit kurang yakin. “Mmm… Ah.. Dirumah Om Wira. Aku pernah liat kamu di rumah Om Wira.”

Wafa terkejut bercampur takut. Ia merasa belum pernah melihat Sigra tetapi mengapa dia bilang pernah ketemu.

“Oohh Wafa itukan desainernya Mama, makanya dia sering ke rumah. Berarti kamu kesana pada waktu yang pas.” Endra memotong.

“Tapi kayaknya aku belum pernah ketemu kamu.” Wafa yakin belum pernah bertemu Sigra sebelumnya.

“Aku yang liat kamu, waktu itu kamu lagi sama Om.” Sekarang Sigra ingat sekali dengan kejadian itu, tetapi dia tidak ingin membuat masalah. “Aku buru-buru waktu itu jadi nggak sempet kenalan.” Sigra berusaha berbicara dengan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Wafa menjadi khawatir. Apa yang Sigra lihat waktu aku bersama Bapak? Namun, melihat gaya Sigra yang santai, kekhawatiran Wafa sedikit berkurang.

Mereka pun kemudian masuk rumah.

“Mau santai-santai dulu ato langsung nonton aja?” Endra, sang tuan rumah bertanya kepada tamu-tamunya.

“Langsung nonton aja deh, film yang kemaren itu loh.” Sigra langsung menjawab dengan penuh semangat.

“Itulah Sigra, kalau urusan film nggak sabaran.” Kata Yuvi sambil melihat ke arah Wafa.

Wafa hanya tersenyum. Dia berusaha untuk mengikuti alur saja dan bertindak senormal mungkin dalam mendekatkan diri dengan orang-orang yang disayangi oleh Endra.

Ternyata Endra memiliki ruangan home theater khusus dengan layar super besar dan sofa-sofa yang ditata apik. Tidak heran jika pengusaha muda sukses seperti dia bisa memiliki bioskop pribadi di rumahnya dengan koleksi film yang luar biasa banyaknya. Pantas saja Endra lebih suka menonton di rumah.

Hari itu semua bergembira. Tidak hanya menonton film, mereka juga menghabiskan waktu untuk melakukan berbagai macam hal sampai malam. Wafa merasa senang bisa mengenal Sigra yang ternyata begitu baik, sangat bersahabat, dan juga lucu.

Setelah makan malam, Sigra dan istrinya pamit pulang. Endra juga mengantar Wafa pulang. Dalam perjalanan, Sigra membahas Wafa dengan istrinya.

“Aku masih nggak ngerti kenapa Wafa mengejar Endra.” Kata Sigra sambil menyetir.

“Ya ampun.. keliatan banget lagi kalau Wafa itu jatuh cinta sama Endra.” Yuvi melihat ke arah Sigra berusaha meyakinkan.

Sigra menggeleng. “Pasti ada yang lain…pasti ada yang disembunyiin sama cewek itu.”

“Kasar banget sih ngomongnya, dia punya nama kali. Namanya Wafa.”

“Kamu nggak tau sih.” Sigra melihat sebentar kearah istrinya dan kembali memperhatikan jalan.

“Kalau gitu kasih tau dong.” Yuvi menjadi penasaran. Tidak biasanya suaminya berpikir buruk tentang seseorang yang baru dikenalnya. Walaupun Sigra merasa ada yang tidak benar, dia akan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu sebelum membicarakan kecurigaannya pada orang lain, walaupun orang lain itu istrinya sendiri.

“Waktu aku liat dia sama Om Wira mereka lagi pelukan.” Sigra menatap Yuvi yang begitu terkejut.

_________________________________________________
Prolog            <<  Bab Sebelumnya          Bab Selanjutnya  >>
 


 Beranda

Kamis, 17 Juli 2014

Perselingkuhan Terakhir - BAB IV



Bab IV

Wafa tidak percaya bahwa dia telah mencium Endra. Dia belum pernah mencium laki-laki sebelumnya, kecuali ayahnya. Tapi apa yang terjadi tadi memang terjadi begitu saja. Lalu apa yang akan dipikirkan oleh Endra? Pasti bagi Endra hal ini biasa saja karena dia pasti sudah merasa yang lebih dari ini. Wafa berusaha keras untuk menenangkan diri dan tidur agar lebih siap menghadapi esok.

Namun, walaupun Wafa yakin bahwa Endra tidak akan menganggap kecupan tadi malam sebagai hal yang penting, ternyata tidak seperti itu bagi Endra. Pagi hari dia langsung mendatangi Sigra untuk bercerita.

“Gila tuh perempuan.” Endra bercerita penuh semangat pada Sigra yang enggan memperhatikannya dan terus saja sibuk dengan laptopnya.

“Dia cium pipi aku trus lari. Dia itu kayak anak SMA. Kayak yang baru sekali pacaran.” Endra tidak peduli dengan ketidakacuhan sepupunya dan terus saja bercerita. “Kamu harus liat sendiri nanti kamu baru tahu gimana gaya anehnya dia itu.”

Sigra masih saja tidak peduli pada sepupunya dan sibuk dengan pekerjaannya.

“Buset deh nih cewek.” Endra tidak bisa menyangkal bahwa Wafa telah berhasil membuat hatinya bergejolak. Endra bahkan sudah melupakan prinsip hidup utamanya yaitu menempatkan pekerjaan di atas apapun. Hanya Wafa yang menjadi hal terpenting dalam hidupnya saat ini.

“Tadi perempuan sekarang cewek, mana yang bener?” Sigra akhirnya berkomentar

“Komentar yang penting dikit kek.” Endra tidak suka jika sepupunya itu tidak mengacuhkannya. Tapi dia tetap melanjutkan ceritanya karena dia tidak bisa menahannya. “Dia itu manissss banget. Lugu. Tapi pinter.”

“Katanya lugu tapi pinter” Sigra benar-benar kesal dengan cerita sepupunya dan berkata tanpa melepaskan pandangan dari laptopnya.

“Jadi gini. Kalau masalah pengetahuan umum, bisnis, dan bahkan politik, dia itu wawasannya luas dan pola pikirnya maju.”

“Tapi?”

“Dalam urusan laki-laki dan perempuan, dia nggak ada apa-apanya.”

“Ya iyalah kalau bandingannya sama kamu.” Sigra sangat tau bagaimana caranya berkomentar sinis.

“Sinis banget sih?Sebenarnya, Endra mengerti benar kalau sepupunya itu sudah muak dengan gayanya yang senang berganti-ganti perempuan. Tapi dia tahu bahwa sepupunya itu tidak pernah membencinya.

“Itu kenyataan bro.”

“Terserah lah.. aku mau siap-siap dulu ya..” Endra berdiri dari kursi dan melangkah kea rah pintu.

“Mau kemana?”

“Kencan… Sama Wafa.” Dengan senyuman mengembang, Endra meninggalkan Sigra yang menatapnya tidak percaya.

Sigra melihat ada sesuatu yang berbeda pada pancaran mata Endra. Sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sepanjang dia menjadi sepupu pengusaha muda yang kini berkuasa atas empat perusahaan besar di Indonesia. Apakah kali ini akan terjadi sesuatu yang besar? Sigra berharap gadis ini adalah yang terakhir untuk Endra.

***

Biarlah dunia berkata apa, Endra tetap melanjutkan perburuannya. Dia mempersiapkan diri dengan baik untuk tampil mempesona.

“Hai cantik”. Endra tersenyum begitu melihat Wafa keluar dari butiknya. Hari ini Wafa mengenakan blouse berwarna merah muda dengan motif bunga yang ceria. Bajunya tertutup tapi sangat cantik. Sangat berbeda dengan waktu pertama kali mereka bertemu.

“Hai ganteng.” Wafa membalas senyum Endra yang juga tampil mempesona. Dengan kemeja biru langit yang begitu rapi, celana hitam, dan sepatu kulit yang begitu mengkilap, terlihat benar gaya seorang eksekutif muda. Rambutnya tersisir rapi dan wajahnya begitu bersih. Saat mendekat, aroma parfumnya membuat wanita lupa diri.

“Siap?” Endra membukakan pintu mobil untuk Wafa.

“Yuk mari.” Wafa segera duduk di dalam mobil dan mereka pun segera pergi.

Mereka berdua pergi ke mall. Wafa ingin melihat-lihat tren busana terbaru dan juga melakukan riset pasar. Sebenarnya Endra paling tidak suka menemani teman wanitanya ke mall, karena baginya saat melihat wanita begitu heboh melihat satu baju ke baju lainnya, mencoba, dan meminta komentarnya adalah hal yang paling membosankan. Tapi kali ini ia bersama Wafa, wanita yang selalu bisa menghilangkan rasa bosan Endra.

“Bukannya kamu harus membuat tren baru dan bukan mengikuti tren standar?.” Endra berjalan di belakang Wafa yang sangat serius melihat koleksi-koleksi busana terbaru.

“Gimanapun juga kan tetep harus update sama tren biar nggak ketinggalan.” Wafa berjalan menuju rak pakaian kerja.

“Tapi orang datang ke butik kamu untuk beli sesuatu yang nggak ada di mall.” Kata Endra sambil terus mengikuti Wafa.

“Nah itu dia. Aku kesini untuk tau apa yang ada disini jadi aku akan buat yang tidak ada di sini.” Wafa melihat kearah Endra dan tersenyum.

“Betul..betul.”

“Seharusnya kamu lebih tau masalah ini. Perusahaan konveksi kamu kan besar sekali.”

“Kalau aku kan produksi masal. Jadi memang harus selalu mengikuti tren yang ada. Tapi kita juga nggak selalu berkiblat sama tren. Aku punya banyak desainer untuk bikin tren baru, jadi kita bisa menawarkan sesuatu yang lain. Kamu harusnya lebih eksklusif lagi kan?

“Butik aku kan baru dan pasar kelas menengah. Harus tetap mengikuti tren tapi ada sentuhan berbeda yang membuatnya eksklusif. Kalau aku bikin rancangan yang super berbeda dan eksklusif, biasanya itu untuk pelanggan khusus kayak mama kamu.

“Tapi banyak desainer yang cukup browsing untuk tau tren terbaru. Ini kan jamannya internet.”

“Aku senang aja jalan-jalan ke mall. Kan sama kamu.” Wafa mengerlingkan matanya. Dalam hatinya, ia tidak percaya jika ia bisa segenit ini.

Endra tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Kalau disini nggak banyak orang, aku cium kamu.”

“Cium aja kalau berani.” Wafa menantang.

Oh… jangan pernah menantang Endra.” Endra melingkarkan tangannya ke pinggang Wafa dan menariknya mendekat.

“Endra apaan sih,,, banyak orang tau.” Wafa cepat-cepat melepaskan diri.

“Aku kan udah bilang, jangan pernah menantang Endra.” Senyumnya penuh kemenangan.

Setelah berkeliling, Wafa merasakan perut meminta untuk diisi. Ia mengajak Endra makan ayam goreng cepat saji yang menjadi kesukaannya.

“Kelaparan bu?” Endra heran melihat Wafa yang makan dengan begitu lahapnya.

“Aku tuh suka banget ayam goreng. Waktu aku kecil, ini tuh makanan mewah.” Wafa menjawab sambil tetap menikmati makanan di hadapannya.

“Makanan mewah?” Endra mengernyitkan keningnya.

Wafa menyadari kesalahannya. Bisa bahaya jika Endra tau masa kecilnya susah. Dia berusaha memikirkan kalimat yang tepat supaya Endra tidak curiga.

“Maksud aku.. ee.. waktu kecil aku nggak boleh banyak jajan.” Setidaknya Wafa tidak berbohong tentang itu. Waktu kecil, bisa makan di tempat seperti ini mungkin hanya satu tahun sekali. Itupun tidak boleh pesan macam-macam.

Endra tertawa kecil. “Sama.. mama juga ketat banget soal makanan. Dia tuh sok kaya, sok eksklusif. Kalau makan harus di restoran mewah. Makanan kayak gini nggak dianggap sama dia. Alasannya banyak. Nggak sehatlah… berisik tempatnya.. dan masih banyak lagi.

“Apa? Jadi kamu juga jarang makan gini?” Terkejut mendengar cerita Endra, Wafa pun menghentikan makannya.

Iya, padahal kan enak. Bapak sih ngebolehin kami makan ginian, tapi buat jalan sama bapak tuh susah banget saking sibuknya. Semangatnya bercerita membuatnya semakin lahap memakan ayam goreng yang ada di hadapannya.

Wow. Ternyata orang kaya pun susah untuk makan makanan seperti ini. Tapi begitu ironis. Wafa tidak bisa makan karena tidak ada uang sedangkan Endra tidak bisa makan karena terlalu banyak aturan. Tapi saat ini ada ayam goreng yang enak di hadapan Wafa, ia pun kembali melahap makanannya dan melupakan semua ironi.

Selesai makan, Endra mengantarkan Wafa pulang. Seperti sebelumnya, Endra hanya mengantarkan sampai depan apartemen.

“Aku masuk dulu ya.” Wafa membalikan tubuh untuk melangkah masuk.

Sebelum Wafa melangkah, Endra menarik tangan Wafa, melingkarkan tangannya ke pinggang Wafa, dan menariknya mendekat. Dia melihat keterkejutan di mata Wafa. “Supaya kamu nggak lari.”

Wafa merasa tidak nyaman. Dia menoleh ke kanan dan kiri.

“Tenang nggak ada orang yang liat.” Endra langsung menangkap apa yang dirasakan Wafa.

“Aku kan harus masuk kenapa jadi nggak boleh?” Wafa merasa kuatir jika Endra akan melakukan sesuatu yang tidak pantas.

Endra menyodorkan pipinya. Wafa tidak bereaksi. Endra pun menunjuk pipinya. Akhirnya Wafa mengerti maksud Endra. Tapi, ia merasa malu dan berusaha melepaskan diri.

“Aku nggak akan lepasin sebelum kamu cium pipi aku.”

Wafa tidak punya pilihan lain. Dia pun mencium pipi Endra.

“Nah gitu dong. Jangan kaya pencuri. Habis dapet yang di mau langsung lari.”

“Maksudnya?” Dengan nada bicara yang begitu polos, Wafa terlihat seperti anak kecil yang membuat Endra begitu gemas.

“Kemaren kan kamu cium aku langsung lari.”

Wajah Wafa pun langsung merona merah. “Sekarang udah nggak lari, lepasin dong.” Wafa yang sangat malu berusaha melepaskan diri tetapi tangan Endra begitu kuat.

“Nggak ah…  Belum puas.” Endra merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya dan dia merasa bahwa ia tidak akan puas untuk merasakannya.

“Udah malem Dra… ngantuk nih. Besok lagi ya…” Wafa tahu bahwa dia tidak boleh hanyut dan tetap bermain pintar untuk mempertahankan ketertarikan Endra padanya.

“Hhhhhh…….Oke ibu boss, sampai besok ya.” Endra mendaratkan kecupan di kening Wafa sebelum melepaskan tangannya.

Endra masuk ke mobil dan meninggalkan Wafa yang kesulitan untuk berdiri tegak. Kecupan tadi membuat kakinya lemas. Ini tidak seperti yang ia rencanakan sebelumnya.

***

“Dia emang gadis yang special”. Endra berkata dengan penuh senyum.

Sejak bertemu dengan Wafa, senyuman selalu mengembang di wajah Endra. Hari ini senyumannya semakin mengembang.

“Kamu yakin dia masih gadis?” Sigra mencoba mengganggu kegembiraan Endra.

“Aku kan udah bilang, dia itu kalau masalah hubungan lelaki dan perempuan masih kayak anak SMA.”

“Kenyataannya, anak SMA jaman sekarang banyak yang udah ga gadis.” Sigra tidak mau menyerah secepat itu.

“Maksud aku kayak anak SMA jaman kita dulu.” Endra mencoba bertahan.

“Waktu kita SMA, banyak temen kita yang sudah melepaskan kesuciannya atas nama cinta yang sebenarnya nafsu” Sigra tau benar bagaimana mematikan musuh.

“Oke bukan kayak anak SMA.” Endra berhenti sebentar untuk berpikir. “Pokoknya aku tau mana yang berpengalaman dan tidak.”

“Perempuan itu pintar berpura-pura.” Sigra masih tidak mau kalah.

“Kali ini aku yakin dia tidak berpura-pura.”

“Kalau memang dia tidak berpengalaman dan masih lugu, kenapa dia mau sama orang yang track recordnya kaya kamu?” Sigra tetap melawan dengan pintar. Dalam hal percintaan, Sigra memang lebih berpikir logis.

“Itu pertanyaannya dan aku harus dapet jawabannya.” Endra mengangguk-angguk.

“Hati-hati bro, api itu panas.” Sigra kembali pada pekerjaannya. Mendengarkan cerita Endra sama saja membuang waktu.

“Hotter is better.” Endra meninggalkan ruangan sepupunya dengan senyum yang terus mengembang.

Saat kembali ke ruangan, Endra mendapat telpon dari Wafa.

“Kamu bisa jemput aku jam 4 nggak? Aku mau ambil anggrek di tempat temen.”

“Jam empat ya…?” Endra berfikir sejenak. “Bisa diatur.”

“Oke aku tunggu ya.”

Jam empat kurang lima Endra sudah sampai di butik Wafa. Endra langsung masuk ke dalam ruangan Wafa tanpa permisi. Tidak ada orang diruangan tersebut. Wafa yang berdiri membelakangi Endra menoleh untuk melihat siapa yang datang.

“Hei.. udah dateng.. bentar ya.” Wafa cepat-cepat membereskan dokumen yang berantakan di  mejanya.

Endra memeluk Wafa dari belakang. Wafa yang kaget langsung berusaha melepaskan diri. “Endra apaan sih? Lepasin.”

“Nggak akan.”

“Nanti diliat orang.”

“Nggak ada siapa-siapa di sini.”

“Karyawan aku bisa masuk kapan aja.”

“Emang mereka nggak diajarin sopan santun buat ketok pintu dulu sebelum masuk?”

“Pokoknya lepasin.”

Endra pun akhirnya menyerah. Dia semakin yakin bahwa Wafa adalah seorang gadis yang lugu, walaupun tampilan luarnya memperlihatkan sosok metropolis.

“Sibuk banget kayaknya.” Endra duduk di kursi tamu sambil terus memperhatikan Wafa.

Wafa segera menyelesaikan pekerjaannya membereskan dokumen. Ia memutar tubuhnya untuk melihat ke arah Endra. “Emang kamu aja yang boleh sibuk?”

“Oww.. kesetaraan perempuan.” Endra mengangguk-angguk.

Wafa mengambil tasnya. “Yuk.”

Mereka pun pergi sesuai dengan keinginan Wafa. Setelah mengambil bunga anggrek yang dipesan Wafa, Endra mengantarnya pulang. Karena Wafa memesan dua pot anggrek, Endra membantu membawa pot-pot itu sampai ke dalam apartemennya.

“Ini mau ditaruh dimana? Bukannya bunga harus kena sinar matahari ya?”

“Iya .. makanya ditaruhnya di beranda luar aja.” Wafa menunjukkan pintu menuju beranda.

“Di pojok kanan ya?” Endra meletakkan box berisi dua pot bunga anggreknya di sudut kanan beranda.

“Pot yang satu di pojok kanan, yang satu di pojok kiri.”

Endra mengangkat pot dari box dan meletakkannya seperti keinginan Wafa.

“Oke” Wafa melihat dan mengangkat jempolnya. “Boxnya biarin di situ aja dulu, besok aku beresin.”

“Emang nggak repot harus ngurus bunga?” Endra membersihkan tangannya.

“Makanya aku pilih anggrek. Nggak perlu tanah jadi nggak terlalu repot. Cukup disiram sama dikasih pupuk.” Wafa memperhatikan kedua pot barunya dengan gembira.

“Rumah tanpa bunga itu gersang.” Wafa mengemukakan alasannya. “Eh kamu mau minum apa?”

“Apa aja” Endra melihat sekeliling. Apartemen ini tertata rapi dan sangat nyaman.

“Makan disini ya.. nanti aku masakin.” Wafa menuju dapurnya.

“Kamu bisa masak?”

“Bisa dong.” Wafa membuka kulkas untuk mengambil minuman kaleng.

Sesaat kemudian terdengar suara adzan memanggil umat untuk menyembah Tuhannya.

“Eh adzan tuh, jamaah yukk.. imamin aku.”

“Apa?” Endra terkejut mendengar permintaan Wafa.

“Ayo..” Wafa menarik tangan Endra dan menunjukkan kamar mandi untuk berwudhu.

Wafa menyiapkan sajadah di ruang tengah saat Endra kembali setelah berwudhu.

“Giliran aku, tunggu bentar ya.”

Endra tidak percaya dengan yang terjadi. Seumur hidup dia hanya menjadi imam saat pelajaran agama di sekolah. Betapa anehnya hidup, pahala dan dosa terjadi secara bersamaan. Saat ini dia akan menjadi imam atas gadis yang merupakan selingkuhannya. Walaupun dia mengatakan tidak berselingkuh, dalam lubuk hatinya dia tahu bahwa yang dia lakukan saat ini adalah perselingkuhan.

Endra melakukan tugasnya sebagai imam dengan baik. Walaupun dia bukan seorang muslim yang baik, Endra telah belajar banyak dari Sigra untuk sedikit demi sedikit melakukan kewajiban sebagai hamba. Lagipula dia telah merasakan manfaat yang besar dari usahanya mendekatkan diri pada Tuhan. Dengan doa dia bisa mendapat sedikit ketenangan dalam hidup.

Wafa tidak percaya bahwa setelah enam tahun, akhirnya dia diimami oleh suaminya. Walaupun suaminya tidak tahu hubungan mereka sebenarnya, tetapi ini benar-benar saat terindah yang pernah dia rasakan setelah menikah. Sebenarnya Wafa ingin sekali mencium tangan imamnya itu, tetapi dia menahan diri. Dia tidak ingin terlihat berlebihan.

Setelah itu, Wafa segera memasak. Untuk makan malam, Wafa memasak spaghetti. “Ini pertama kalinya aku memasak makanan untuk suamiku”. Wafa begitu bahagia saat ini. Dia merasa telah melakukan kewajibannya sebagai istri. Walaupun suaminya tidak tahu bahwa yang saat ini sedang memasak adalah istrinya sendiri.  

Sementara itu Endra menunggu di ruang tengah sambil menonton TV dengan santai. Hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, Endra akan sibuk dengan laptopnya, membaca dokumen-dokumen penting, memeriksa keadaan perusahaan, menelpon rekan bisnis, atau apapun juga yang berhubungan dengan pekerjaan disaat istrinya menyiapkan makan malam. Namun sekarang, Endra bahkan tidak memikirkan pekerjaan sama sekali.

“Makan malam siap…” Wafa memanggil dari ruang makan.

Endra menghampiri sambil melihat makanan yang tersaji di meja, kemudian duduk.

“Yang gampang aja yah biar cepet.” Wafa meletakkan gelas minum dan duduk di kursinya.

“Yang penting enak.” Endra menjawab sambil tersenyum dan mengambil garpunya.

“Cobain deh.” Wafa menunggu Endra mencoba masakannya.

Endra mencoba spaghettinya dan merasakannya. “Enak. Pinter juga kamu masaknya.” Entah makanannya yang enak atau suasananya yang membuat makanannya menjadi enak.

“Yes.” Wafa senang sekali.

“Kamu kok nggak makan? Emang kenyang ya ngeliatin aku doang?” Endra menggoda sambil melihat ke arah Wafa yang belum menyentuh makanannya.

Wafa tersipu dan mulai memakan makanannya. Ini makan malam terindah dalam hidupnya. Wafa tidak sabar untuk memasak makanan lain untuk Endra. Selain merancang busana, memasak adalah hal yang selalu membuatnya bersemangat. Terlebih lagi untuk lelaki yang telah membuatnya begitu bahagia saat ini.
Selesai makan, mereka menonton TV di ruang tengah. Endra merangkul Wafa dan menariknya mendekat sampai Wafa bersandar di bahunya namun Wafa segera melepaskan diri. Walaupun Wafa sangat menyadari bahwa laki-laki yang sedang memeluknya adalah suaminya sendiri, dia tetap merasa tidak nyaman karena Endra tidak tahu yang sebenarnya.

“Kenapa sih?”

“Nanti kebablasan.” Wafa tidak berbohong. Dia memang merasa sedikit takut jika mereka berdua tidak bisa menahan diri. Kalaupun hal itu harus terjadi, Wafa ingin mereka melakukannya dengan kesadaran penuh akan siapa diri mereka sebenarnya. Tidak seperti saat ini yang penuh dengan kepura-puraan.

“Oke”. Endra menjauhkan tangan dari Wafa dan melanjutkan menonton TV bersama. Sebelumnya, Endra tidak pernah melakukan hal-hal kecil seperti ini dengan istri-istrinya. Biasanya, setelah selesai makan malam Endra melanjutkan pekerjaannya. Setelah pekerjaannya selesai, mereka masuk kamar.

“Kamu nggak ada pekerjaan?”

Pertanyaan Wafa sedikit mengagetkan Endra. “Eh.. kerja? Nggak penting.”

“Seorang Kagendra Mahawirya bilang kalo kerjaan itu nggak penting?” Wafa melihat Endra dengan pandangan tidak percaya.

“Apa gunanya punya anak buah?” Endra melemparkan senyum tipis.  “Eh kenapa kamu pikir aku gila kerja?” Endra merasa sedikit aneh karena Wafa terdengar begitu mengerti dirinya padahal mereka baru berkenalan beberapa hari saja.

“Ya… kamu kan pengusaha muda. Semua eksekutif muda itu gila kerja. Apalagi posisi kamu nggak main-main.” Penjelasan Wafa terdengar masuk akal.

Endra menganguk-angguk. “Tapi sekarang kan ada kamu. Istirahat sebentar boleh lah.. enggak akan ancur perusahaan kalau cuma ditinggal bentar.”

“Kamu pinter banget ya ngerayu perempuan. Kalau ahli emang beda.” Wafa memang mengejek Endra tapi entah mengapa, sebenarnya Wafa merasa kalau perkataan itu tulus dari hati Endra, bukan sekedar rayuan.

Perkataan Wafa membuat Endra sadar bahwa ia sepertinya sudah sedikit lupa diri. Seharusnya dia tarik ulur dahulu agar Wafa semakin terpesona dan tidak bisa lari darinya. “Tapi.. kayaknya sekarang udah malem deh.”

“Dari tadi kali malemnya.”

“Maksudnya udah terlalu malam. Aku pulang ya.” Endra berdiri.

“Pulang?”

“Iya.. pulang. Kan udah malem, kamu juga harus istirahat.”

“Ya udah kalau kamu mau pulang.” Raut Wafa terlihat kecewa.

“Bukannya nggak mau lebih lama sama kamu.” Endra bisa menangkap kekecewaan Wafa. “Kalau diterusin, aku bisa minta lebih.” Endra mengedipkan matanya. “Bahaya.”

Wafa menjadi salah tingkah.

“Aku pulang ya?” Endra berdiri dan merapikan bajunya.

Wafa menganggukkan kepalanya dan berdiri.

Mereka berdua menuju pintu. Endra berhenti sebelum membuka pintu. Raut wajahnya sedikit berubah sehingga membuat Wafa khawatir.

“Kayaknya besok aku nggak bisa ketemu kamu deh.”  Endra ragu tapi dia harus mengatakan itu karena jadwalnya memang sangat padat buat esok hari.

“Kenapa?” Wafa kaget dan takut. Baru saja dia berhasil membuat Endra tertarik, tetapi sepertinya Endra mulai bosan padanya.

“Besok banyak meeting dari pagi sampe malem.” Endra berbicara dengan pelan takut jika menyakiti hati Wafa.

Wafa hanya menarik nafas tanpa berkata-kata. Dia benar-benar takut kalau ini malam terakhirnya.

“Kan masih ada lusa, besoknya lagi, besoknya lagi.” Endra berusaha meyakinkan Wafa. Biasanya dia tidak pernah peduli jika ada istrinya yang protes jika dia tidak datang. Tetapi Wafa bukan istrinya. Wafa itu spesial.

“Jangan cemberut dong, besok aku telfon ya? Video call deh, biar bisa liat cantiknya kamu.” Endra sangat berharap kali ini rayuannya berhasil.

Melihat tidak ada reaksi dari Wafa, Endra menyentuh pipi Wafa. Perlahan dia mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Wafa.

Wafa terkejut, dia tidak menyangka Endra akan menciumnya walaupun hanya di pipi. Terlebih lagi dia terkejut karena selama ini hanya ibu dan ayahnya saja yang pernah mencium pipinya. Tapi Wafa tidak berusaha mengelak. Toh yang menciumnya adalah suaminya sendiri.


_____________________________________________________________


Prolog                   << Bab Sebelumnya              Bab Selanjutnya >>
 

 Beranda