Senin, 14 September 2015

Daftar Drama Korea Favoritku



Apa maksudnya nih di blog novel ada daftar drakor?

Kalau ada yg bertanya seperti itu, sebenarnya ini adalah cara aku meminta maaf. Banyak sekali yg aku ingin maafnya.

Pertama.. maaf karena baru sekarang posting lagi setelah sekian lama blog ini terabaikan. Alasannya, novel ketiga aku masih dalam pengerjaan. Sampai postingan ini, novel ketiga aku baru sampe bab 5. Bab 1 memang segera diposting setelah postingan ini tapi, untuk bab-bab selanjutnya sepertinya akan mengalami keterlambatan. MAAF YAAAAAAAA

Trus apa hubungannya sama drakor?

Jadi.. dulu aku suka banget sama drama asia, tapi entah kenapa beberapa tahun lalu aku berenti nontonnya. Akhir tahun kemaren, aku nemunin lagi drakor di salah satu tv swasta. Mulai lagi deh tertarik sama drakor. Trus, tv swasta yg laen juga ikutan nayangin drakor. Tambah seneng deh… sampai akhirnya ada satu drama yg aku suka banget judulnya

장난스런 기스 / Naughthy Kiss / Playfull Kiss

 

Sebenarnya ini drama tahun 2010 tapi aku baru nonton tahun 2015, please deh.. Jalan ceritanya ringan dan menyenangkan. Karena di tv banyak potongan, akhirnya aku nonton online. Karena saking sukanya, akhirnya download deh. Eh ternyata lagi, ini drama ternyata remake dari manga Itazura na Kiss yg aku pernah liat serial drama versi Jepangnya jaman duluuuu banget.

Drama ini membuat banyak perubahan dalam pola pikir aku. Jadi tokoh utama prianya ada sedikit kesamaan sama aku (sedikit ya.. bukan banyak).

Pertama kita sama-sama nggak suka belajar (tapi, klo tokoh ini nggak suka belajar karena IQ nya 200, klo aku sih nggak suka belajar karena males… hehe..)

Kedua, tokoh ini jutek, judes, dan hidup dalam dunianya sendiri. Bersosialisasi dianggap sebagai keharusan yang dijalanin seadanya. Aku juga gitu. Kalau ibu aku bilang, aku ini penyendiri yang parah banget. Seharian di rumah. Klo nggak nonton, main sama kucing. Nggak pernah maen ke rumah temen, nggak ada temen yang dateng ke rumah. PARAH.

Ketiga, tokohnya menjalani hidup sesuai dengan apa yg seharusnya dilakukan dan bukan karena keinginan dia. Karena harus sekolah ya sekolah. Sampai akhirnya dia berontak dan mendapat pencerahan bahwa hidup ini seharusnya dilakukan dengan bahagia. Jadi dia memutuskan untuk mencari kebahagiaan.

Aku juga gitu, karena harus sekolah ya sekolah, harus kuliah ya kuliah, harus kerja ya kerja. Sampai akhirnya aku males, aku bosen, dan aku ingin keluar dari semua tekanan. Aku berontak dengan nggak mau kerja kantoran sampe akhirnya keluarga aku jadi punya masalah. Tapi aku emang nggak bisa kerja kantoran, apalagi klo harus di Jakarta.

Sampai saat ini masalah aku masih belum ada jalan keluarnya, tapi aku berusaha untuk hidup bahagia. Karena aku udah nggak bisa ngejar cita-cita lama, udah nggak mungkin kuliah lagi, aku mau ngejar cita-cita baru buat jadi penulis. Doain ya semoga bisa tercapai. Amin.

Dipikir-pikir, banyak drakor yg tipenya kayak gini. Cowoknya super dingin, sedangkan ceweknya super ceria. Kok jadi kebalik ya, klo aku kan cewek yg dingin. Nah aku jadi pengen bikin cerita yang dibalik. Ceweknya yg super dingin dan cowoknya yang ceria.

Terus…. aku liat lagi drakor lain, judulnya

Bride of the Century


Drama ini pernah tayang di TV, tapi baru beberapa episode udah diputus. Karena penasaran, akhirnya nyari di internet. Waktu liat di YouTube, ada keterangan klo pemeran prianya Lee Hong Ki. Ini yang bikin aku kaget. Jadi, tokoh pria di drama ini tuh super dingin dan jutek abis. Waktu itu aku taunya Lee Hongki itu orangnya ceria banget. Dia pernah maen di You’re Beautiful jadi anggota boyband yang paling seru, super ceria dengan rambut pirang. Waktu konser promo drama itu, dia orangnya gokil banget. Tapi, dikehidupan nyata, dia itu vokalis band rock yang lebih menjurus ke hardcore gitu. Jadi agak bingung, sebenernya nih cowok kayak apa sih? Tapi dari beberapa vidio konser sama wawancara yang aku liat, dia itu emang lebih menjurus ke cowok yang ceria dan gokil walaupun klo lagi show sama bandnya kesannya keras. Dan aku pada dasarnya lebih suka dia yang ceria.

Terinspirasi dari Lee Hong Ki, Ternyata cowok gokil juga nggak kalah keren kok. Bahkan mungkin mereka lebih bisa menunjukkan perasaan dan lebih care sama cewek. Akhirnya diputuskan. Oke kita tulis cerita yg ringan, yg cowoknya gokil, ceweknya dingin.

Inilah novel ketiga aku, yg judulnya “Kenapa Kamu? Yg Ditetapkan Tuhan buat Aku”

Sebenarnya rancangan novel ini udah dibuat lebih dari setahun yg lalu, tapi nggak berkembang karena nggak ada ide. Karena ada inspirasi tadi, akhirnya jalan ceritanya aku rubah. Mudah-mudahan nggak ada halangan lagi dalam nulisnya dan bisa segera selesai.

Oke… lanjut…..Kegemaran nonton drakor aku berlanjut (untung ada internet malem, jadi bisa streaming & download drakor :D sepuasnya :D)

Aku dapetin drakor judulnya  

길미 힐미 / Kill Me Heal Me


Drama ini tentang seorang laki-laki yang punya masalah DID atau multipersonality disorder. Jadi dia punya beberapa personality. Dia bisa berubah jadi 7 orang yang berbeda tanpa dia sadari dan tanpa bisa dikontrol. Karena drama ini, aku jadi melihat orang-orang yg mempunyai masalah psikologis dengan cara yang berbeda. Orang-orang yg mempunyai kelainan kejiwaan itu bisa jadi sangat menderita karena mereka nggak bisa ngontrol dirinya sendiri. Belum tentu mereka itu memang suka berbuat jahat. Bisa jadi itu karena tekanan psikologis yang mereka sendiri nggak tau gimana caranya keluar dari masalah mereka.

Aku sendiri punya sedikit masalah anxiety disorder atau kelainan kegelisahan terutama saat harus berkomunikasi personal dengan orang lain dan saat aku berada di tempat yang banyak sekali orangnya. Mungkin itu juga yang bikin aku jadi penyendiri seperti sekarang.

Jadi terinspirasi untuk menambahkan sedikit masalah psikologis di novel ketiga aku. Walaupun nggak seekstrim drakor ini. Sedikit aja…… dan yang pasti bukan DID. Yang masih taraf ringan aja.

Kemudian ada drakor keempat favoritku judulnya

나앨도 칸타빌레 / Tomorrow Cantabile


Aku tertarik sama drama ini karena bercerita tenang musik klasik. Walaupun aku nggak tau banyak tentang musik klasik dan agak sulit buat ngebedain mana yang Mozart, Beethoven, Haydn, Liszt, Chopin, Rachmaninoff, dan lain sebagainya, tapi aku suka dengerin musik klasik, terutama nonton orkestranya (di TV ato YouTube - belum bisa liat konser langsung hikss…hikss..).

Drakor inilah yang bikin aku pengen minta maaf sama semua orang…..

Tokoh utama prianya adalah seorang penyendiri yang tidak suka berteman. Tapi, setelah menjalani serangkaian cerita, akhirnya dia membuka diri dan mendapatkan banyak sahabat baik.

Kembali lagi, aku inget sama diri aku sendiri. Aku jadi penyendiri bukan karena orang-orang nggak mau berteman sama aku. Kalau aku ngeliat diri aku sendiri, sebenarnya waktu sekolah, aku ini anak yang cocok untuk dibuli. Dari segi fisik, kakak aku bilang kalau aku ini “udah gendut, buntek, pendek, item, idup lagi”. Dari segi sifat, aku bukan anak gaul. Tapi baik di SMP maupun SMA, nggak pernah ada yg ngebuli aku. Alhamdulillah… aku dikasih temen yang baik-baik.

Tapi bukannya bersyukur, aku justru menjauh dari temen-temen aku itu. Beberapa waktu lalu, aku buka fb dan buka komunitas kelas aku di SMP. Komunitas itu udah ada sejak 2 tahun yg lalu, tapi aku baru gabung beberapa bulan kemaren (kemana aja?). Yg membuat aku marah sama diri aku sendiri adalah aku baru tau ternyata… ada temen sekelas aku yg udah meninggal 2 tahun lalu. Aku bener-bener sedih dan kesel minta ampun sama diri aku sendiri. Dijaman sosial media kayak sekarang, aku bisa ketinggalan informasi sepenting ini. Kemana aja sih aku selama ini?  

Radityo Sulaksono … apakah aku masih bisa meminta maaf?

Bukan cuma temen SMP, temen-temen SMA juga aku tinggalin, padahal mereka baik-baik sama aku dan mengajarkan aku banyak hal untuk deket sama Tuhan. Harusnya SMA itu penuh dengan kenangan indah, tapi aku justru sebaliknya. Semua itu bukan salah orang lain, tapi salah aku sendiri yang menutup diri dari temen-temen aku. 

Temen-temen semua… maafin aku ya..

Yg lebih parah mungkin temen-temen kuliah. Waktu kuliah dulu, aku dipenuhi amarah. Waktu itu aku nggak bisa kuliah di Bandung karena alasan keuangan dan terpaksa harus kuliah di Jogja di kampus yang aku nggak suka. Aku juga nggak suka teknik, jadi aku yg pada dasarnya udah males, jadi tambah males kuliahnya.

Selama kuliah aku bergelut dengan kemarahan dan kesedihan aku sendiri. Padahal, selama kuliah itu aku mendapatkan teman-teman yang luar biasa. Mereka begitu baik dan kita sekelas udah kayak keluarga. Bahkan, Pak Untung dan Supri yang  cuma satu tahun kuliah bareng kita, masih baik sampai saat ini. Temen-temen aku itu juga yg bikin aku lebih deket lagi sama Tuhan.

Sama seperti sebelumnya, aku menarik diri dari mereka dan membuat dinding pemisah antara kami. Bodohnya aku.. Diberi keluarga yang baik, aku justru pergi dari mereka..

Temen-temen… bapak…. ibu-ibu semuanya…. Maafin rika ya…..

Aku juga sebenernya masih punya banyak temen. Waktu kerja di MEDIPIA, semuanya udah kayak keluarga. Kayaknya nggak ada tempat kerja yang seseru dan seindah Medipia deh. Temen kosan di Sunter juga luar biasa baik, udah kayak keluarga.  Kangeeen deh sama kalian semua.

Mereka tidak peduli aku ini siapa dan aku bagaimana. Mereka menerima aku apa adanya. Walaupun aku membuat dinding pembatas, mereka semua mengulurkan tangannya untuk menarik aku keluar dari lingkaran kesendirian.

Aku nggak tahu apakah aku masih bisa meraih tangan kalian setelah selama ini aku membiarkan tangan-tangan itu tidak kusentuh.

Sekali lagi…  
MAAFKAN AKU KAWAN, SAHABAT, KELUARGAKU



Kamis, 11 Juni 2015

Pesan Khusus dari Jingga



Walaupun saya dikatakan bisa menjalani poligami, saya ingatkan pada semua pembaca agar tidak punya keinginan untuk berpoligami.

Saya telah menjalaninya sendiri dan merasakan betapa beratnya poligami. Saya menjalani poligami karena saya sudah tidak punya pilihan lagi. Saya sudah berusaha untuk keluar, tapi tidak bisa.

Saya telah merasakan bahwa poligami itu walaupun sekuat tenaga dijalani dengan ikhlas, ternyata hanya membuka celah-celah untuk berbuat dosa.

Berdosa atas kebohongan, pengingkaran janji, dan ketidakadilan

Kita harus ingat bahwa manusia sudah difitrahkan Allah untuk tidak bisa berlaku adil.

Yang Maha Adil hanya satu yaitu Allah.

Manusia yang mau menjalani poligami harus menyadari bahwa adil itu untuk siapa? Karena apa? Seperti apa?

Ingatlah bahwa adil tidak hanya tentang 2 dibagi 2 sama dengan 1.

Sebelum semuanya terlambat dan kita tidak bisa mengelak, lebih baik kita menutup pintu sejak awal agar tidak ada yang mengganggu kehidupan rumah tangga. 


_____________________________________________________________

Pengantar        BAB I       << Epilog    


Mengapa Aku Memilih Poligami - Epilog



Allah, Tuhan Semesta Alam memang penuh kasih kepada semua hambaNya. Allah selalu memberikan balasan terbaik atas semua pengorbanan yang dilakukan oleh hambaNya. Balasan berlipat ganda yang tidak bisa diukur kebahagiaannya.

Hanya dalam hitungan bulan, aku diberi berkah luar biasa. AKU HAMIL LAGI. Kali ini, Allah melengkapi hidupku dengan seorang anak perempuan yang sehat dan lucu, yang kami beri nama Lili.

Alhamdullillahirobbil’alamin.

Aku merasa lebih damai dalam hati ini. 


*TAMAT*


_____________________________________________________________



Kamis, 04 Juni 2015

Mengapa Aku Memilih Poligami - Bab VII



Berada di rumah ibu memberiku ketenangan. Aku kembali memikirkan semua yang terjadi dan semakin bulat dengan keputusanku untuk segera berpisah dari Koko secara resmi. Tentang mengurus anak dan adik-adik, aku yakin aku bisa melakukannya bersama ibuku tanpa bantuan Koko. Ibuku juga mendukung keputusanku untuk bercerai karena beliau memang tidak pernah setuju dengan poligami.  

Tanpa kuduga, beberapa hari kemudian datang surat kilat khusus dari kantor Koko. Di dalam surat itu tertulis bahwa ada masalah dan surat yang harus aku tanda-tangani di kantor. Aku mengira bahwa Koko sudah mengurus perceraian kami dan yang akan ditandatangi adalah masalah perpisahan kami.

Aku menjadi bersemangat dan memutuskan untuk segera pulang ke Jogja dengan anakku. Aku pamit pada ibu dan meminta doa agar semua urusan bisa cepat selesai sehingga aku bisa bebas dari berbagai masalah yang begitu menyesakkan batin selama ini. Ibu memberikan restunya dan mendoakan yang terbaik untukku.

Sesampainya aku di Jogja, keponakanku kaget melihat aku yang sudah pulang kembali. “Ceu kok sebentar udah pulang lagi ke Jogja?”, katanya. “Iya ada surat yang harus ditandatangi di kantor. Mudah-mudahan cepet beres. Jadi kita bisa pulang ke Bandung”, jawabku sambil tersenyum. Saat itu aku benar-benar yakin jika perceraian kami sudah di depan mata.  

Aku melepas lelah di rumah dan penuh optimisme akan masa depanku dan anakku. Seharian itu aku hanya tenang saja menunggu esok hari saat semuanya akan berakhir baik. Aku begitu yakin dengan prasangkaku sehingga tidak terpikirkan bahwa ada kemungkinan jika surat yang dikirim itu palsu. Dan ternyata surat itu memang palsu.

Sekitar jam lima sore hari itu, ada sebuah becak yang berhenti di depan rumah. Aku melangkah keluar rumah untuk tahu siapa yang datang. Aku kaget karena yang kulihat adalah Koko turun dari becak dengan dituntun oleh Tanjung. Apa yang terjadi? Permainan apa lagi ini?

Dalam kebingungan, kupersilahkan mereka masuk. Setelah duduk, Tanjung yang saat itu terlihat pucat berkata dengan perlahan, “Maaf De Jingga, ini Mas tiba-tiba buta.”

Betapa terkejutnya aku mendengar penjelasan Tanjung. “Lho memang Mas kenapa?” tanyaku. Aku tidak percaya jika Koko buta karena tidak pernah ada masalah apapun pada matanya selama ini. “Nggak tahu. Waktu bangun tidur tiba-tiba Mas udah nggak bisa lihat”, kata Tanjung sambil menggelengkan kepala.

Aku semakin tidak mengerti dan sulit untuk mempercayainya walaupun sudah kulihat sendiri pandangan mata Koko yang kosong seperti orang buta.

“Sudah sejak kapan?” tanyaku. “Sudah dua hari yang lalu”, jawab Tanjung. “Sudah di bawa ke dokter?” tanyaku. “Sudah”, jawabnya. “Apa kata dokter?” tanyaku. “Nggak tahu. Katanya harus diperiksa lagi”, jawabnya. “Dibawa periksa ke mana?” tanyaku. “Ya cuma dibawa ke rumah sakit dekat sini”, jawabnya. “Terus gimana ini?” tanyaku. “Ya gimana? Saya terserah aja”, jawabnya. Tanjung terlihat begitu cemas dan sepertinya mulai kehilangan harapan.

Aku semakin bingung dengan kejutan yang tidak menyenangkan ini. Baru saja aku memiliki harapan untuk hidup baruku, tapi kenyataannya menjadi seperti ini. Seluruh angan-angan indah hilang dari benakku, digantikan oleh kegelapan yang menyelimuti setiap sudut hidupku. Tapi aku sadar bahwa aku tidak boleh berdiam diri saja. Ini masalah kami semua. Harus ada penyelesaiannya.

”Ya sudah. Sekarang begini saja. Mas disini dulu dan tidak akan pulang kesana sebelum sembuh. Insyaallah, saya akan mengobati Mas dulu. Nanti kita lihat bagaimana hasil pengobatan beberapa hari ke depan”, kataku pada Tanjung. “Ya saya ikut saja”, jawabnya.

Setelah Tanjung pulang, aku bertanya pada Koko apa penyebab dia bisa buta seperti itu. Koko menjawab bahwa dia tidak tahu. Aku berusaha menekannya agar dia mau jujur, tetapi jawabannya sama, dia tidak tahu. Karena aku kasihan pada Koko dan tidak mau bertengkar, aku tidak melanjutkan pertanyaanku.

Keesokan harinya aku dilanda kebingungan lagi. Aku harus ke dokter spesialis agar bisa mengetahui penyebab pasti kebutaan Koko, tapi biayanya tentu sangat mahal. Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Kemarin saja uangku sudah banyak dihabiskan untuk biaya pulang pergi ke Jawa Barat.

Setelah berpikir, aku memutuskan untuk menjual perhiasan seperti biasanya saat aku membutuhkan uang mendadak. Apalagi yang bisa kulakukan? Aku memang sangat menyayangi perhiasanku, tetapi mata Koko lebih penting dari perhiasan. Ini masalah hidupnya dan juga hidup keluarga kami.

Setelah mendapatkan uang, aku memeriksakan Koko ke dokter ahli mata. Menurut orang-orang, dokter tersebut adalah dokter mata terbaik di Jogja. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, dokter meminta kami untuk berbicara sebentar dengannya. Dokter berkata, “Bapak ini sebenarnya stress dan larinya ke syaraf mata.” Aku tidak percaya pada apa yang kudengar. “Stress dok?”, tanyaku. “Iya. Bapak itu stress berat. Ini bisa sembuh jika stressnya dihilangkan. Mungkin masalah pekerjaan atau bagaimana. Ibu kan istrinya, Ibu yang tahu kenapa suaminya bisa stress”, jawab dokter.

Aku yang harus tahu? Aku saja baru tahu kemarin. “Saya kan baru tahu kalau suami saya buta dok”, kataku. Dokter itu sepertinya kurang mengerti akan perkataanku. “Iya jadi gimana? Ada apa-apa nggak?” tanya dokter. Kemudian beliau meneruskan, “Ini masih bisa sembuh lagi. Tapi kalau stressnya diteruskan, seumur-umur Bapak akan buta. Kalau stressnya hilang, insyaallah, pelan-pelan Bapak bisa sembuh.”

Aku benar-benar tidak percaya dan juga kesal hati. Lagi-lagi masalah stress berat. Tentu saja aku tahu mengapa Koko bisa stress berat, tapi tidak mungkin aku ceritakan hal tersebut pada dokter. Kamipun pulang.
Sesampainya di rumah, aku semakin stress. Aku tidak kuasa melihat Koko yang buta dan kehilangan semangat hidupnya. Aku memikirkan bagaimana masa depan Koko jika dia buta selamanya. Bagaimana masa depan anak-anaknya? Bagaimana masa depan anakku? Tigo pasti akan malu jika memiliki Bapak yang buta.

Dalam keputusasaan, aku tahu tempat terbaik untuk mengadu. Aku tersungkur bersujud pada Tuhan Semesta Alam. ‘Ya Allah… tolonglah aku… Hanya Engkau yang Maha Penyembuh. Hanya Engkau yang Maha Kuasa membolak-balikkan keadaan.’

Mengadu pada Tuhan membuatku merasa sedikit tenang dan bisa berpikir lebih jernih. Karena tidak ada lagi usaha yang bisa dilakukan untuk mengobati Koko, kuputuskan untuk melakukan apa yang bisa kulakukan saja. Aku adalah seorang istri dan ibu, yang harus aku lakukan adalah melaksanakan tugasku sebagai seorang istri dan ibu yang baik.

Hari-hari kulalui untuk mengurus Koko yang buta. Aku memandikannya, memakaikan baju, menyuapi makan, dan mengajaknya ngobrol. Saat tidak mengurus Koko, aku mengurus Tigo dan membereskan masalah rumah tangga.

Waktu itu, Koko sangat malu dengan keadaannya dan tidak mau keluar kamar kecuali untuk mandi. Alhasil aku banyak menghabiskan waktu di dalam kamar untuk menemaninya. Untung saja ada keponakanku waktu itu sehingga aku ada yang membantu untuk mengurus Tigo dan rumah.

Setiap malam, aku mengaji Yasin dan bangun tengah malam untuk sholat tahajud. Dalam doaku, aku memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk memberikan pertolongan pada masalah kami ini. Aku memiliki dua permintaan pada Allah. Apabila ini adalah cobaan, aku mohon Koko segera disembuhkan lagi karena dia harus mencari nafkah untuk anak-anak yang enam. Kalau memang ini adalah takdir suamiku menjadi buta selamanya, berilah aku keikhlasan dan pekerjaan agar bisa mendapat uang untuk berkehidupan dan mencukupi kami sekeluarga. Sempat juga tercetus bahwa jika suamiku sembuh, aku akan sangat bersyukur pada Allah dan ikhlas untuk menjalani takdirNya.

Hari ke hari, tidak ada perubahan pada penglihatan Koko. Aku semakin kehilangan harapan dan sangat terpukul dengan keadaan ini. Aku merasa bersalah. Bagaimanapun juga aku turut andil dalam membuat Koko stress berat. Kalau aku tidak emosi waktu itu, mungkin sekarang Koko masih bisa melihat dan masih bisa bekerja. Aku teringat waktu dulu, bagaimana sulitnya Koko menyelesaikan kuliah sambil bekerja dan mengurus dua keluarga. Apakah semua kerja keras itu akan sia-sia saja seperti ini? Tidak, aku tidak berani membayangkannya.

Hatiku hancur lebur, tapi aku tidak mau Koko merasakan kehancuranku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang di dekat Koko. Aku terus memberikan dukungan dan semangat bahwa suatu saat dia akan bisa melihat kembali. Aku yakinkan bahwa dia hanya harus sabar dan berusaha untuk menghilangkan stressnya.

Alhamdulillah, dukungan dariku mulai memperlihatkan sedikit hasilnya. Beberapa hari dalam perawatanku membuat Koko sedikit demi sedikit mendapatkan semangat hidupnya lagi. Dia mulai banyak bicara dan bahkan bercanda denganku. Aku juga mulai tenang dan tidak terlalu memikirkan masalah kebutaannya. Jika memang dia tidak bisa melihat lagi, ini memang sudah jalannya. Yang penting dia mulai semangat dan bisa menerima hidupnya saat ini.

Pada hari ke tujuh, seperti biasa pagi itu aku mengurus semua keperluan Koko. Aku bertanya apakah dia mau makan atau mandi dulu. Dia bilang dia mau mandi dulu saja baru makan.

Aku memandikannya. Setelah itu aku bilang padanya kalau aku mau membuat nasi goreng. “Bapak mau nggak makan nasi goreng?” tanyaku. “Wah Bapak sudah kangen banget sama nasi goreng buatan ibu. Aku mau”, jawab Koko penuh semangat.

Setelah nasi gorengnya siap, aku membawa satu piring untuk kami berdua. Selama Koko buta, aku terbiasa makan satu piring berdua agar kami berdua bisa makan bersama tanpa aku harus kerepotan jika menyuapinya dengan piring yang berbeda. Dengan satu piring, aku bisa menyuapi Koko kemudian aku menyuapi diriku sendiri.

Saat sedang menyuapinya, tiba-tiba dia berkata, “Ternyata ibu tetap cantik ya.” Aku kesal mendengar rayuannya. Bagaimana mungkin dia masih bisa merayu dalam keadaan seperti itu. “Gombal. Nggak ngeliat mah nggak ngeliat aja, nggak usah gombal,” kataku. “Aku ngeliat kok kalau ibu cantik”, katanya.

Sontak aku kaget. Apa dia sudah melihat? Apa dia benar-benar sudah sembuh? Aku yang ragu bertanya padanya, “Lho terus? Ibu pake baju apa?”

Hatiku dag dig dug menunggu jawabannya. “Baju merah”, jawabnya. Aku semakin terkejut. Aku memang memakai daster merah waktu itu. Betapa senangnya hati ini. Tapi, aku masih ingin memastikan kebenarannya. “Yang bener? Ah nggak, Ibu pake baju hitam”, kataku. “Nggak kok, Ibu pake baju merah”, jawab Koko dengan yakin. “Bapak sudah bisa lihat? Sudah bisa lihat ibu?” tanyaku dengan perasaan yang luar biasa bahagia. “Sudah”, jawabnya singkat.

Langit hitam langsung menghilang berganti dengan langit biru cerah yang dipenuhi sinar hangat mentari. 
“Alhamdulillah……!” seruku. Tanpa sadar, piring kulempar sampai pecah dan aku sujud syukur.

“Alhamdulillahirobbil’alamin...”

“Alhamdulillahirobbil’alamin...”

“Terimakasih ya Allah atas dikabulkan doa-doaku.”

Tidak ada satu katapun yang bisa menggambarkan kebahagiaan dan kelegaan yang kurasakan pagi itu. Semua beban seketika hilang dari tubuhku. Yang ada hanya rasa ringan, tenang, senang, bahagia, dan syukur yang tidak terkira atas karunia yang telah diberikan oleh Allah, Tuhan yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Koko juga terlihat begitu senang dengan senyum yang mengembang lebar di wajahnya. Kami berdua sangat bersyukur karena telah berhasil melalui cobaan ini.

Aku memberitahukan kesembuhan Koko pada semua yang ada di rumah. Mereka semua sangat bahagia dan bersyukur. Rumah kamipun kembali dipenuhi senyum kebahagiaan.

Setelah semua senyum dan tawa, aku merenungi kejadian yang kami alami. Aku sadar bahwa semua ini adalah peringatan dan juga jawaban Allah atas doa-doaku. Aku tersadar bahwa Allah selalu membuat skenario terbaik bagi setiap umat.

Saat Allah memberikan cobaan, Allah selalu memberikan jalan keluar terbaik asalkan hambaNya sabar dan tidak berhenti berdoa padaNya. Memang tidak ada yang bisa menandingi kekuasaanNya. Saat Allah sudah mentakdirkan sesuatu, tidak ada yang bisa merubahnya. Termasuk hidup yang kujalani saat ini.

Dengan kesadaran baruku, aku berjanji bahwa aku tidak akan komplain lagi apapun dalam meneruskan rumah tanggaku. Aku akan pasrah saja dengan takdir yang sudah ditetapkan oleh Allah. Jika memang aku harus menjalani poligami, maka aku akan berusaha keras untuk bisa ikhlas dalam menjalaninya. Satu permintaanku adalah agar aku diberi rejeki yang senantiasa cukup untuk aku hidup dengan anakku.

Sejak saat itu aku benar-benar berusaha mengikhlaskan kehidupan rumah tanggaku. Aku menyayangi dan melayani Koko layaknya istri terhadap suami. Tidak ada lagi rasa cemburu yang membabi buta. Kalaupun ada cemburu, aku bisa memendamnya. Aku benar-benar cuek dan berusaha mengalihkan perhatianku pada hal lain agar tetap merasa bahagia.

Yang membuatku bisa melupakan masalah adalah anakku dan usaha yang kujalani. Selain itu, aku juga menanamkan dalam hati bahwa ini adalah jalan surga yang sudah disiapkan oleh Allah untukku. Aku hanya berdoa semoga aku kuat dalam menelusuri jalannya dan sampai ke tujuan dengan selamat. 



_____________________________________________________________

Pengantar        BAB I         << Bab Sebelumnya       Epilog >>