Senin, 04 Mei 2015

Mengapa Aku Memilih Poligami - Bab IV



Bagaikan kilat menyambar otakku, kata-kata yang keluar dari mulut Koko membuat kepalaku serasa mau pecah. Apa yang terjadi? Koko adalah harapan baru untukku. Dia yang telah membangkitkan kembali keberanianku untuk menikah lagi. Dia yang telah menegakkan harga diriku sebagai seorang wanita dengan hadirnya anak kami. Dia yang telah memberikan kasih sayang, tidak hanya kepadaku tetapi pada seluruh anggota keluargaku. Mengapa kini dia juga yang menghancurkan semuanya?

Amarahku pecah tak tertahan. Aku berdiri dan berkata pada Koko, “Emangnya aku ayam? Tidak punya perasaan mau dibegitukan? Bapak kok punya pikiran begitu? Pikiran dari mana? Aturan dari mana? Bapak punya perasaan nggak sih kalau Ibu ini juga punya perasaan? Bapak punya pikiran nggak kalau Ibu ini punya otak?”

Koko tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya terdiam mematung. Wajahnya pucat dan begitu memelas. Namun amarahku tidak bisa dibendung hanya dengan wajah memelas, aku tidak selemah itu. Setelah semua yang aku alami, aku tidak mau lagi ditindas oleh suamiku.

“Nggak! Nggak bisa!” Aku melangkah ke arah meja dan mengambil selembar kertas kosong. Kusodorkan kertas itu kepada Koko sembari berkata, “Sekarang tanda tangan ini, nanti Ibu tinggal ngetik. Ibu mau cerai aja. Silahkan Bapak mau balik lagi sama Bu Tanjung. Mangga. Dengan senang hati, mangga!”

“Jangan begitu Bu, Bapak maunya bukan begitu”, kata Koko. Terlihat sekali ketakutan di wajahnya. Aku menunggu sampai dia mengatakan sesuatu yang bisa membuatku lebih tenang, tapi hanya itu kata-kata yang diucapkannya. Aku semakin marah saja. “Ya sudah terserah Bapak”, kataku. Aku sudah tidak peduli lagi dan keluar meninggalkan kamar.

Beberapa hari kemudian Koko jatuh sakit yang cukup parah sampai aku harus membawanya ke rumah sakit. Menurut dokter masalah yang sebenarnya bukan pada fisiknya tetapi pada psikologisnya. Koko dirawat selama 4 hari dan dokter hanya memberikannya obat demam biasa. Dokter mengatakan bahwa aku harus menemukan penyebab stress berat yang dialami Koko dan menyelesaikan masalah itu agar Koko tidak sakit lagi.  

Aku tahu apa penyebab stress yang dialami Koko dan apa jalan keluar dari stress tersebut, tapi aku juga sangat sadar bahwa aku tidak mungkin membiarkan dia melakukan hal itu. Tidak mungkin aku rela untuk dimadu. Aku masih memiliki kekuatan untuk hidup dan menghidupi anakku dengan kemampuanku sendiri. Lebih baik aku bercerai daripada dimadu.

Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Koko kembali berbicara padaku. “Bapak mau balikan sama ibunya Kuncoro. Kasihan dia diusir oleh kakaknya karena tidak mau dijodohkan. Makanya sekarang dia tinggal lagi di jalan P. Anak-anak juga pada sakit. Kuncoro masuk rumah sakit dan Ati dirawat di rumah”, katanya dengan hati-hati.

Aku kembali marah mendengar permintaannya. Mengapa dia begitu egois dan tidak memikirkan perasaanku? “Kalau masalah anak-anak sakit, kan ada Wita. Suruh saja Wita membantu Mbak Tanjung ngurusin anak-anak”, kataku dengan kesal.

Keesokan harinya kami membahas anak-anak Koko yang sedang sakit. Karena Tanjung harus menunggui Kuncoro yang dirawat di rumah sakit, akhirnya kami memutuskan untuk mengutus Wita ke rumah Tanjung untuk mengurus Ati yang sakit. Wita adalah adik Koko yang tinggal bersama kami. Aku juga menjenguk Ati dan berusaha untuk membantu sebisaku, sedangkan Koko harus bolak-balik ke rumah sakit untuk ikut mengurus Kuncoro. Beberapa hari kemudian Kuncoro keluar dari rumah sakit dan keadaan Ati juga membaik.

Aku merasa lega karena anak-anak Koko telah sehat kembali, tetapi keputusanku untuk membiarkan Koko mengurus anak-anaknya ternyata menjadi bumerang.  Malam itu Koko berbicara padaku. “Bagaimana ya bu jika Bapak kembali lagi pada De Tanjung. Bapak kan juga harus bertanggung jawab sama anak-anak”, katanya.

Seperti yang ditakutkan ibuku, kewajiban Koko untuk ikut mengurus anaknya menjadi jalan bagi dia dan mantan istrinya untuk semakin dekat. Aku tidak tahu persis apa yang terjadi, tapi aku bisa memastikan bahwa rasa cinta antara mereka benar-benar merekah kembali. Aku menyesal sudah mengijinkan dia untuk mengurus anak-anaknya, tetapi aku tidak punya pilihan lain. Jika aku menghalangi dia untuk bertemu dan mengurus anaknya, sama saja aku membuat dia berdosa yang berarti aku juga ikut berdosa.

Aku kesal pada Koko, tetapi aku lebih kesal pada diriku sendiri yang tidak bisa menjaga suamiku sendiri. Aku merasa kali ini aku tidak boleh lembek. Ini adalah hidupku dan aku harus memperjuangkannya. Akhirnya dengan tegas kukatakan padanya, “Ibu kan sudah bilang dulu. Ibu kasih Bapak dua pilihan. Anak-anak diurus sama Ibu atau kita pisah. Tidak ada pilihan lain.”

Selama beberapa hari setelah itu, Koko terlihat begitu stress. Dia berusaha untuk mendekatiku, tetapi tidak aku hiraukan. Akhirnya, dia kembali berbicara padaku. Dia menceritakan bahwa dia sudah kembali dekat dengan mantan istrinya itu, bahkan sangat dekat. “Bu Bapak tau Bapak sudah melakukan kesalahan. Tapi Bapak sudah terlanjur. Tolong Ibu mengerti dan membantu Bapak agar Bapak bisa bertanggungjawab sama semua”, katanya.

Wajahnya yang begitu memelas saat mengatakan itu membuat dadaku terasa sesak. Mengapa Koko tega melakukan ini padaku? Apa salahku sampai dihianati seperti ini? Mana janjinya dahulu untuk tidak kembali lagi pada mantan istrinya? Apa gunanya kami membuat surat perjanjian itu jika akhirnya dia melanggarnya? Tidak! Aku tidak mau mengalah. Aku tidak boleh menyerah.

Di tengah kegalauanku, Koko berkata lagi, “Bu bapak sudah mengajukan ke pengadilan. Bapak mau poligami saja. Ibu yang ridho aja. Besok kita ke pengadilan ya bu?” Aku tidak percaya jika Koko bisa sejauh ini. Tapi justru aku merasa tertantang. “Ayo. Siapa takut?” kataku. Jika memang dia maunya begitu, aku akan meladeninya dengan seluruh kemampuanku.

Keesokan harinya kami berangkat ke pengadilan agama. Tanjung juga hadir ditemani oleh Wita. Setelah Koko mengatakan maksudnya, hakim bertanya padaku, “Bagaimana Ibu Jingga apa sudah ikhlas, setuju jika suaminya kembali lagi pada mantan istrinya?” Aku tersenyum dan menjawab dengan tegas, “Setuju pak. Alhamdulillah setuju sekali. Tapi dengan satu catatan. Saya di cerai dulu dan saya terima surat talak.”

Hakim pengadilan agama terlihat terkejut mendengar kata-kataku. Kemudian beliau bertanya pada Koko, “Bagaimana Pak Koko, syaratnya mau diterima atau tidak?” Koko yang terlihat bingung karena rencananya tidak berhasil berkata, “Wah saya harus pikirkan lagi kalau seperti itu Pak. Saya tidak bisa. Bukan seperti ini mau saya. Mau saya dua-duanya saya yang bertanggung jawab.”

Karena tidak ada titik temu antara kami berdua, akhirnya hakim memutuskan bahwa permintaan Koko tidak bisa dikabulkan. Hakim itu berkata, “Ya sudah kalau begitu. Dibicarakan dahulu dan datang lagi kesini setelah ada keputusan karena sekarang tidak akan jatuh surat ijin.” Kami pun akhirnya pulang dengan keadaan yang masih sama. Tidak ada satupun dari kami yang mau mengalah.

Beberapa hari kemudian Koko jatuh sakit dan di opname lagi di rumah sakit. Seperti sakitnya yang dulu, dokter mengatakan bahwa penyebab utama sakitnya Koko adalah stress berat. Koko hanya bisa benar-benar sembuh jika stressnya hilang. Aku disarankan untuk bisa membantu Koko mengatasi stressnya sementara dokter hanya bisa memberikan perawatan untuk mengatasi demamnya.

Saat sedang merawat Koko di rumah sakit, masalah lain datang. Hari itu, datanglah adik Koko yang bernama Jono. Dia berkata, “Mbak Jingga, gini lho. Mbak Tanjung itu kan kemaren harus masuk rumah sakit, sekarang sudah bisa keluar. Tapi tidak ada dananya untuk membayar biaya rumah sakit. Bagaimana ya? Keluarganya kan sudah tidak mau tau lagi tentang keadaan Mbak Tanjung.”

Apa lagi ini? Apa aku juga yang harus mengurusi mantan istrinya itu? Kenapa harus aku? Aku ini istri yang dihianati. Seharusnya aku yang dibela, bukan aku yang ditekan terus menerus seperti ini.

Aku benar-benar benci dengan keadaan ini. Aku kesal, aku marah, aku murka. Tapi … aku tidak bisa diam saja melihat ada orang yang sedang kesulitan seperti itu. Hati nuraniku berkata untuk melakukan sesuatu. Bagaimanapun juga Koko adalah suamiku. Dengan keadaan Koko yang seperti ini, aku yang harus bergerak dan mengatasi masalah ini.

Aku membuka dompet dan melihat uangku tinggal sedikit. Tabunganku juga tidak akan cukup untuk biaya rumah sakit karena sudah terpakai untuk biaya berobat Koko yang sebelumnya. Terpikir olehku untuk meminjam dari sekolah, tetapi karena aku dan Koko sudah ada pinjaman, sekolah tidak bisa memberikan lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk menjual perhiasanku. Aku berikan sebagian uang penjualan itu kepada Jono untuk mengeluarkan Tanjung dari rumah sakit, sebagian aku gunakan untuk biaya pengobatan Koko, dan sisanya aku simpan untuk berjaga-jaga jika ada kebutuhan mendesak lainnya.  

Walaupun sudah keluar dari rumah sakit, Koko masih stress berat dan yang ada dipikirannya hanya masalah poligami. Aku tidak tahan dengan keadaan ini. Aku merasa terpojokkan sebagai pihak yang bersalah karena tidak membantu suamiku keluar dari beban beratnya. Tapi kembali lagi, aku ini kan wanita yang dihianati. Apa aku harus mengalah dan terima harga diriku diinjak-injak? Tidak! Aku tidak mau! Aku tidak mau diriku disakiti seperti ini sedangkan aku tidak melakukan kesalahan. Mereka yang seharusnya mengalah padaku, bukan aku yang harus mengasihani mereka.

Namun, pertahananku sedikit demi sedikit mulai goyah. Hari ke hari kulihat suamiku semakin terpuruk. Di otakknya selalu saja ada Tanjung, tapi dia juga tidak mau berpisah denganku. Jika aku memaksakan untuk bercerai, pasti dia akan semakin sakit atau bahkan dia bisa jadi gila.  

Aku pun memikirkan semua yang telah terjadi padaku. Apa yang salah sampai ini terjadi? Mungkin aku juga melakukan kesalahan sampai hal seperti ini terjadi padaku. Lalu apa yang harus kulakukan? Keputusan apa yang harus aku ambil agar keadaan bisa membaik?

Dalam kegamanganku, aku tahu bahwa aku tidak sendiri. Boleh saja orang lain tidak peduli dengan hatiku, tapi Allah selalu ada untukku. Allah tidak pernah berhenti memberikan kasih dan sayangnya padaku. Allah pasti akan memberikan pertolongannya padaku. Aku pun sholat tahajud dan istikharah untuk meminta petunjuk dari Allah.

Malam itu setelah sholat, muncul rasa kasihan dalam hati. Kasihan juga jika Tanjung harus mengurus anak-anaknya seorang diri. Dengan anak-anak sebanyak itu, tentunya akan sulit untuk Tanjung mengurus mereka semuanya dengan baik, terutama karena kakak-kakaknya sudah tidak mempedulikannya lagi. Walaupun Koko mengirimkan uang, anak-anak itu tetap membutuhkan kasih sayang yang penuh dari ayahnya. Bagaimana masa depan anak-anak itu jika aku bersikukuh tidak mengijinkan Koko kembali pada ibu mereka?  

Aku juga memikirkan perasaan Koko dan Tanjung. Sejak awal aku sudah tahu bahwa Koko dan Tanjung berpisah bukan karena keinginan mereka, tetapi paksaan dari keluarga besar Tanjung. Tentunya rasa cinta mereka berdua masih ada. Bahkan rasa cinta itu sangat kuat, terbukti dengan adanya kejadian ini. Bagaimana mungkin aku sanggup untuk menghilangkan rasa itu? Masalah hati bukanlah sesuatu yang bisa kita kontrol dengan mudah. Kalaupun aku memaksa, bisa jadi rasa itu semakin tidak terkontrol dan justru semakin merusak.

Aku kembali berpikir dan berpikir. Koko dan Tanjung memiliki anak-anak yang masih harus mereka urus. Setelah bercerai, anak-anak menjadi alasan bagi mereka untuk bertemu kembali. Dengan masih adanya rasa cinta, pertemuan mereka tentunya tidak hanya mengurusi masalah anak. Itulah alasan mengapa keadaan ini terjadi. Koko dan Tanjung mendapatkan kembali rasa yang tersimpan dan tidak sanggup membendungnya. Hal ini pasti akan tetap berlanjut di masa datang, karena anak-anak akan selalu menjadi alasan. Walaupun aku berusaha keras menghentikannya sekarang, cepat atau lambat hal ini akan kembali berulang.

Aku juga terpikir dengan dosa yang mungkin mereka lakukan. Mereka kan laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim. Jika mereka terus menerus bertemu …. Memikirkannya saja aku tidak sanggup.

Tuhan… apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus membiarkan mereka seperti ini terus menerus? Jika mereka melakukan dosa, bukannya aku juga ikut berdosa karena membiarkan hal itu terjadi? Sedangkan aku tahu bahwa ada jalan untuk menghindari dosa. Yaitu… POLIGAMI.

Allah dengan terang menyatakan kehalalan poligami. Walaupun terkesan tidak adil dan begitu menyakitkan, tidak ada larangan untuk berpoligami. Itu adalah hak khusus yang diberikan hanya untuk laki-laki. Lalu bagaimana mungkin aku menentang hukum Allah? Bukankah Allah menyayangi semua makhluk ciptaannya baik laki-laki maupun perempuan? Saat Allah sudah menetapkan hukum seperti itu, pasti ada alasan logisnya. Hanya manusia saja yang terus terbawa nasfu dan perasaan sehingga terus menerus mempertanyakan dan mempertentangkan hukum Allah.

Lalu bagaimana ini? Aku ini manusia dan seorang perempuan yang memiliki hati lebih rapuh daripada laki-laki. Sakit sekali rasanya dihianati. Tentu akan lebih sakit lagi jika aku dimadu. Kalaupun aku memilih poligami karena hukum Allah, bagaimana aku bisa bertahan dengan rasa sakit itu?

Dunia sepertinya tidak adil padaku. Dua kali aku menikah dan dua kali aku disakiti oleh suamiku sendiri. Bukankah perempuan baik akan mendapatkan laki-laki yang baik pula? Apakah aku ini perempuan yang tidak baik? Apakah ibadahku kurang sehingga Allah tidak sayang padaku?

Pertanyaanku itu sepertinya langsung mendapat teguran dari Allah. Sesaat kemudian aku disadarkan pada kenyataan lain dalam hidupku. Aku teringat bagaimana kehidupan pernikahanku dengan Toni. Bagaimana dia telah begitu mengekang hidupku, menyakiti keluargaku, dan menghinaku dengan talak cerai yang dilakukan tanpa belas kasih. Aku teringat betapa sakitnya hati ini saat dikatakan sebagai perempuan pembawa sial karena tidak bisa memberikan anak pada Toni. Saat itu aku berdoa pada Allah untuk memberikan pertolongan dalam menghadapi masa-masa sulit itu. Aku berdoa pada Allah untuk menolongku membuktikan pada mereka bahwa mereka salah.

Sebenarnya Allah sudah menjawab doa-doaku itu. Aku sudah diberi kekuatan dan jalan keluar dari berbagai masalah sampai akhirnya aku bisa hidup dan menyekolahkan adik-adikku dengan kekuatanku sendiri tanpa Toni. Aku telah dikeluarkan dari jurang gelap yang begitu menyesakkan sampai akhirnya aku bisa melihat cahaya dan menghirup sejuknya udara kembali. Bukankah itu  luar biasa? Aku yang terbiasa dimanja oleh ayah, kini bisa menjadi tulang punggung keluarga. Aku yang dahulu hanya bisa berkata iya dan iya, kini telah berani menyatakan pemikiranku.

Lalu… aku teringat Tigo. Anakku itu adalah karunia terbesar yang diberikan Allah padaku. Aku telah diberi kesempatan untuk menjadi wanita sempurna dengan merasakan indahnya mengandung, melahirkan, dan melihat perkembangan anakku. Harga diriku telah ditegakkan oleh Allah. Semua ejekkan sudah dihilangkan dengan adanya pembuktian bahwa aku tidak mandul. Allah telah menjawab doaku. Ya, Allah telah menjawab doaku. Yang terpenting, Allah menjawab itu melalui Koko. Tanpa Koko, tentunya tidak akan ada Tigo.

Astagfirullah…. Aku merasa bersalah telah mempertanyakan kebijakan Allah. Aku merasa malu karena telah begitu egois. Aku merasa bahwa aku ini orang yang paling tertindas padahal aku telah mendapatkan karunia luar biasa selama ini. Begitu bodohnya aku mempertanyakan kasih sayang Allah padahal kasih sayangnya terus mengalir padaku.

Astagfirullahaladzim…. Ya Allah maafkan hambamu. Maafkan hambamu yang hanya memikirkan diri sendiri dan hanya melihat sesuatu dari satu sisi saja. Maaf ya Allah…. Maaf…

Tangisku jatuh tak tertahan. Hati ini begitu sakit karena malu dan rasa berdosa pada Tuhan semesta alam yang tidak pernah tidur dan selalu memutuskan yang terbaik untuk hamba-hambanya.

Jika Allah sudah mengabulkan doa-doaku, mengapa aku tidak terima dengan cobaan seperti ini? Bukankah cobaan juga merupakan bagian kasih sayang dari Allah? Allah memberi cobaan untuk menaikkan derajat kita agar lebih kuat dan lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Jika Allah memberikan cobaan lagi, tentunya Allah akan memberikan jalan keluarnya lagi, bukan? Allah akan selalu ada dan memberikan jalan keluar asalkan aku mau mengikuti petunjuknya.

Jadi… aku seharusnya bisa menyelamatkan suamiku karena ini adalah jalan keluar yang paling logis saat ini. Dengan bantuan Allah, aku pasti akan mampu menghadapi sakit yang akan datang. Akhirnya… aku mengambil keputusan terbesar dan terberat dalam hidupku.

Saat malam dihari berikutnya, kami berdua di kamar dan aku mulai berbicara pada Koko. “Pak, gimana bapak tuh? Maunya seperti apa? Kalau seperti ini Bapak tuh berdosa terus.” Koko melihatku dengan lemas. Dengan perlahan dia berkata, “Bapak tuh merasa bersalah bu. Bapak tuh mati aja apa ya?”

Jawaban Koko membuatku merasa kesal. Apa? Dia mau mati? Enak saja dia mau mati dan meninggalkan masalah. “Ya silahkan. Bapak mau mati mangga, tapi masuk neraka, mending bapak tobat”, kataku dengan ketus. Koko melihatku dengan terkejut, tetapi kemudian dia tertegun lagi.  “Tapi bapak tuh jadi nambah beban De Tanjung. Bapak maunya nikah lagi sama De Tanjung”, katanya.

Tanjung lagi, Tanjung lagi. Sepertinya aku memang tidak bisa menghilangkan nama itu dari otak Koko. Ya, memang sudah tidak ada jalan lain. Aku menarik nafas dan mengumpulkan kekuatanku. Dengan sekuat tenaga, kutatap mata Koko dengan tajam. “Oke, ibu ijinkan. Tetapi dengan syarat! Ibu tidak mau Bapak menikah resmi dan Ibu tidak mau ke pengadilan agama. Bapak nikah siri aja, asal halal saja”, kataku dengan tegas.

Koko sangat terkejut mendengar kata-kataku. “Kenapa begitu?”, tanya Koko. Aku tidak mau berdebat panjang dengannya dan menjawab, “Ya pokoknya Ibu maunya begitu aja. Kalau Bapak tidak mau, ya cerai. Kemaren cuma ada alternatif satu saja, sekarang ada alternatif lain.” Lalu, sebelum Koko menimpali, aku menambahkan. “Dan saya juga minta anak Ibu, Tigo, harus bisa bertemu dengan bapaknya setiap hari. Terserah Bapak mengaturnya seperti apa.”

Walaupun Koko terlihat berpikir keras, mulai terlihat kalau dia merasa lega. “Ya sudah kalau begitu, mau Bapak coba”, katanya. Aku yang masih merasa kesal menimpalinya dengan ketus, “Bukan dicoba, tapi dipikirkan dan tanggung jawab. Kalau tidak tanggung jawab, masuk neraka.”

Koko tersenyum. Semua beban sepertinya terlepas dari kepalanya. “Terima kasih ya Bu. Ibu memang wanita sholehah”, katanya padaku dengan berseri-seri. Malam itu dia begitu baik kepadaku. Tidakkah dia menyadari bahwa istrinya ini telah hancur sehancur-hancurnya? 



_____________________________________________________________

Pengantar        BAB I         << Bab Sebelumnya       Bab Selanjutnya >> 

Selasa, 20 Januari 2015

Mengapa Aku Memilih Poligami - Bab III




Di awal pernikahanku dengan Koko, semua berjalan dengan sangat baik. Tuhan sepertinya mendengar jerit hatiku yang sakit oleh perlakuan Toni dan keluarganya. Tanpa harus menunggu lama, aku mendapatkan kabar luar biasa. AKU HAMIL.

Gejolak kegembiraan yang kurasakan tidak bisa digambarkan. Ini adalah suatu pembuktian bahwa aku tidak mandul dan aku bukan perempuan pembawa sial. Tuhan benar-benar membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menghentikan-Nya. Toni, Mimih, apa yang akan kalian katakan sekarang?

Kebahagiaanku semakin memuncak dengan adanya kasih sayang dan perhatian Koko yang tercurah padaku. Koko bukanlah Toni. Mereka berbeda hampir 180 derajat. Toni adalah orang yang senang dengan kemewahan sedangkan Koko adalah orang yang sederhana. Toni adalah anak mami yang selalu berlindung pada ketiak ibunya sedangkan Koko adalah anak tertua yang selalu bekerja keras untuk membantu orang tuanya. Toni selalu mengekangku, sedangkan Koko memberikan begitu banyak ruang untukku bekerja dan bersosialisasi

Satu lagi perbedaan yang mencolok antara Toni dan Koko, yaitu perhatian terhadap adik-adikku. Koko sangat memperhatikan adik-adikku. Koko tidak keberatan jika aku mengurus adik-adikku karena diapun adalah anak tertua dengan tanggung jawab pada adik-adiknya. Alhasil, kami bahu membahu menggurus dan menyekolahkan adik-adik kami.

Memang, Koko dan Toni juga memiliki kesamaan yaitu keduanya sama-sama sering berbicara keras dan keras kepala. Koko adalah orang Jawa Timur yang memang terkenal memiliki sifat keras. Namun, walaupun Koko suka berbicara keras, dia juga memiliki sisi lembut yang bisa membuatku luluh. Selain itu, pengalaman hidupku yang terdahulu membuat aku lebih kuat dan berani. Jika dahulu aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti keinginan suami, setelah menikah dengan Koko aku lebih berani dalam menyatakan pendapat dan keinginanku. Bukannya aku membangkang dan melawan suami, tetapi aku hanya berusaha untuk mendapatkan keadilan agar cerita pernikahanku yang dahulu tidak terulang lagi. Hasilnya cukup baik. Dengan keberanianku, aku bisa menekan sifat keras Koko.

Dengan adanya Koko, aku merasa beban hidupku berkurang. Aku memiliki teman untuk berbagi senang maupun susah. Keadaan ekonomi keluargaku juga semakin baik dengan nafkah yang diberikan Koko, walaupun gajinya tidak diberikan sepenuhnya padaku. Setengah gajinya diberikan untuk menafkahi anak-anak dari pernikahannya yang terdahulu. Yah, aku mengerti bahwa sebagai ayah, dia masih memiliki kewajiban untuk menafkahi anak-anaknya. Oleh karena itulah aku tidak keberatan jika gajinya dibagi dua. Untungnya, setelah perceraian, mantan istri dan anak-anaknya tinggal di luar kota sehingga mereka tidak sering bertemu. Aku merasa bahwa kekhawatiran ibuku tidak akan terbukti.

Selama aku hamil, aku cukup dimanjakan oleh Koko. Dia selalu berusaha untuk memenuhi keinginanku selama ngidam. Walaupun kadang-kadang dia suka malas dan berusaha membohongiku, tetapi aku bisa memaafkannya. Yah, paling aku hanya sedikit ngambek dan segera berbaikan tidak lama kemudian. Lagipula, Koko telah berpengalaman dalam menghadapi istri yang sedang hamil sebelumnya sehingga dia lebih mengerti jika aku yang sedang hamil suka menginginkan hal-hal yang cukup merepotkan dan memiliki emosi yang kadang tidak stabil.

Disaat usia kandunganku belum genap tujuh bulan, aku mengalami kecelakaan kecil. Aku terpeleset saat akan mencuci rambut. Aku merasa ada sesuatu yang basah dipahaku dan segera memanggil Koko. “Bapak…bapak”, aku berteriak dengan keras. “Ada apa bu?” Koko menjawab dan segera mendekatiku. “Ini lho pak ada yang kayak gini”, aku mempelihatkan cairan yang keluar. “Oh itu slem”, kata dia. “Terus gimana?” kataku dengan cemas. Aku takut jika terjadi sesuatu pada kandunganku, tapi aku juga tidak berani bercerita tentang jatuhku karena takut Koko akan marah. “Kita harus kerumah sakit”, kata Koko.

Koko segera membawa aku ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa usia kandunganku sebenarnya belum cukup, tetapi dokter menyarankan agar aku berjalan-jalan untuk melihat perkembangan selanjutnya. Jika terjadi kontraksi, maka aku harus segera menemui dokter. Akupun berjalan-jalan sekitar satu jam dan merasakan sakit. Saat aku kembali menemui dokter, terlihat pembukaan dan dokter mengatakan aku bisa segera melahirkan. Alhamdullillah, aku pun melahirkan anak pertamaku yang berjenis kelamin laki-laki.

“Alhamdulillahi robil’alamin”. Betapa bersyukurnya aku atas keselamatan anakku yang usia kandungannya sebetulnya belum cukup. Aku bersyukur atas semua karunia yang diberikan oleh Allah, terutama karena aku tidak perlu menunggu lama untuk bisa menimang bayi yang begitu aku harapkan. Koko juga terlihat begitu bahagia dengan bayi kami. Walaupun dia telah memiliki tiga anak sebelumnya, tetapi anak yang kami beri nama Tito adalah buah cinta kami berdua. Buah cinta yang menunjukkan bahwa Allah selalu memberikan sesuatu tepat pada waktu yang terindah.

Namun, kebahagiaanku sedikit terganggu. Tito mengalami diare yang cukup parah. Aku dan Koko segera memeriksakannya ke dokter. “Bagaimana keadaan anak saya dok?” tanyaku dengan cemas setelah dokter memeriksa Tito. “Begini bu. Anak ibu kan lahirnya prematur, jadi lambungnya belum terlalu kuat. ASI ibu terlalu berlemak sehingga lambung anak ibu tidak sanggup mencerna ASI dengan baik”, dokter menjelaskan. “Jadi saya harus bagaimana dok?” tanyaku. “Sebaiknya ibu menghentikan pemberian ASI dan menggunakan susu formula yang cocok untuk anak ibu”, kata dokter.

Betapa hancur hatiku mendapatkan kenyataan ini.  Sebagai ibu, aku ingin menyusui anakku sendiri sesuai dengan kodratku dan juga perintah Allah. Namun, apa yang bisa kulakukan jika kenyataannya memang seperti ini? Aku tidak memiliki pilihan lain. Yang terpenting adalah anakku sehat dan bisa tumbuh dengan baik.

Setelah menguatkan hati, akupun memberikan susu formula pada Tito. Namun, kembali lagi masalah datang. Tito hanya cocok pada satu merek susu formula yang harganya tidak murah dan tidak tersedia disembarang tempat. Karena aku ingin anakku sehat, akupun berusaha keras memenuhi kebutuhannya. Walaupun aku harus bekerja ekstra agar mendapatkan uang lebih, aku tidak keberatan karena itu demi anakku tercinta.

Mengurus Tito memberikanku pengalaman yang luar biasa. Anakku begitu lucu dan setiap perkembangan baru dari Tito merupakan anugerah yang tidak ingin kulewatkan sedikitpun. Akupun berusaha untuk mengatur waktu sebaik mungkin antara pekerjaan dan mengurus anak. Alhamdulillah ada yang membantu di rumah dan adik-adik juga sangat membantu dalam menjaga Tito.

***

Sangat disayangkan. Ternyata kebahagiaan dengan hadirnya Tito tidak dibarengi dengan kebahagiaan pernikahanku. Baru beberapa bulan setelah Tito lahir, aku mendapatkan banyak kejadian yang mencurigakan dari Koko. Kecurigaan seorang istri yang banyak orang menganggapnya kecemburuan belaka, tetapi pada hakikatnya itu adalah insting yang hanya dimiliki oleh istri, bukan orang lain.

Kecurigaanku diawali dari suatu malam saat dia bersiap-siap untuk pergi. “Bapak ada rapat sama yayasan”, katanya. Aku yang notabene bekerja satu sekolah dengan dia merasa bahwa dia berbohong karena aku sama sekali tidak mengetahui tentang rapat itu. Secara logika, aku dan Koko sama-sama menjabat sebagai wakil kepala sekolah sehingga seharusnya aku juga diundang jika ada rapat. Namun, aku tidak ingin membuat masalah malam itu. “Hati-hati ya pak”, kataku sambil mengantarkannya ke depan pintu. Dengan hati yang penuh kecurigaan, aku mencatat tanggal dan jam rapat itu.

Keesokan harinya, aku melakukan konfirmasi tentang rapat itu pada Pak Dito yang merupakan kepala sekolah. Kebetulan aku cukup dekat dengan Pak Dito sehingga aku yakin bahwa beliau tidak akan berbohong padaku. “Pak, kemarin Pak Koko katanya ada rapat sama yayasan. Kok saya tidak tahu ya Pak kalau ada rapat yayasan? Rapat tentang apa ya Pak?”, tanyaku. Pak Dito terlihat terkejut dan menjawab, “Tidak ada tuh. Tidak ada rapat yayasan”.

Tentu saja aku sudah meyakini bahwa jawabannya akan seperti itu, tetapi aku mencoba memastikan. “Kata Pak Koko ada rapat. Anggota yayasan datang dari Jakarta”, tanyaku. “Sebentar-sebentar, nanti saya tanya dulu sama Pak Koko”, kata Pak Dito yang terlihat bingung. “Kalau Bapak tanya dulu, nanti Bapak juga ikut bohong”, kataku. Pak Dito sepertinya mengetahui jika ada masalah dalam keluarga kami. “Ya sudah, nanti ditanyakan saja pelan-pelan”, kata Pak Dito untuk menenangkanku. “Tenang saja pak, ini urusan saya”, kataku. Aku pun berterimakasih dan mohon diri pada Pak Dito.

Hatiku begitu kesal mengetahui kebohongan Koko. Ada apa ini? Kenapa dia harus berbohong padaku? Untuk apa dia berbohong? Hal apa yang begitu penting sampai aku tidak boleh tahu? Apa yang salah dariku sampai harus dibohongi?

Kecurigaan dan kemarahan bergumul dalam hatiku, tapi aku masih memiliki tugas sebagai guru yang harus terlihat tenang di depan murid-murid dan rekan guru. Dengan sekuat hati, aku berusaha untuk meredam amarahku selama di sekolah. Setelah sampai dirumah, aku tetap menahan kemarahan dan menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Koko. Dahulu nenekku pernah menasihatiku untuk tidak pernah bertengkar dengan suami di depan orang lain. “Boleh kamu bertengkar dengan suami, tapi cicak diatas kepala tidak boleh mendengar”, begitu pesannya.

Malam itu ketika kami telah berdua di kamar, akhirnya aku mulai berbicara pada Koko. Aku mengawalinya dengan bertanya santai, “Gimana pak kemaren rapat yayasan, ada apa sih?” Aku berusaha untuk tidak memperlihatkan kemarahan atau sesuatu yang bisa membuatnya merasa ditekan. Aku khawatir, jika tertekan, Koko justru semakin menyembunyikan kenyataan.

Koko terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaanku tapi dengan cepat dia menjawab, “Oh nggak papa. Cuma ngebahas kurikulum baru”. Dia pun menjelaskan sedikit tentang masalah kurikulum baru itu untuk membuatku mengerti. Aku yakin bahwa dia sangat ingin membuatku berhenti bertanya karena tingkah lakunya terlihat tidak nyaman.  

Aku yang tahu bahwa Koko berbohong sangat marah mendengar penjelasannya itu. Tetapi tentu saja aku tidak mau langsung membongkar kebohongannya. Aku berusaha untuk pintar menghadapinya. Aku ingin dia jujur dan mengakui ada apa sebenarnya sampai dia harus pergi dengan cara berbohong seperti itu. “Oh gitu…”, kataku sambil mengangguk. “Awas ya Pak Dito, masa saya nggak diajak. Kan saya wakil kepala sekolah. Masa saya nggak diajak rapat penting seperti itu”, kataku sambil memperlihatkan muka kesal.

Koko terlihat sangat terkejut mendengat perkataanku itu. Sepertinya dia baru menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan melupakan kenyataan bahwa aku adalah salah satu wakil kepala sekolah ditempat yang sama dengannya mengajar. Tentu saja aku dengan mudah mengetahui kebohongannya. Koko yang menyadari kesalahannya berdiri terpatung. “Iya yah”, hanya itu yang dikatakan olehnya dengan wajah yang penuh ketakutan.

Aku tidak ingin kehilangan momentum dan segera melanjutkan pembicaraanku. “Satu kali berbohong biasanya orang itu akan berbohong seterusnya karena untuk melanjutkan kebohongan yang kemarin”, kataku dengan santai. “Ibu ngomong apa sih?” tanya Koko dengan gugup. “Huh Bapak. Tenang aja Pak sama Ibu mah”, aku menjawab sambil berlalu. Aku tidak ingin mempermasalahkan lagi hal tersebut. Aku memutuskan untuk menanti kelanjutan masalah ini.

Selang beberapa hari kemudian, Koko berkata padaku bahwa dia akan ke kampus untuk menemui dosen pembimbingnya. “Bu Bapak ke kampus dulu ya, setidak-tidaknya unjuk muka”, katanya. Seperti halnya aku, Koko belum menyelesaikan S1-nya. Saat itu, mahasiswa S1 masih diijinkan untuk mengajar di sekolah menengah asalkan mampu. Selain itu, universitas juga masih memberikan kelonggaran dalam perkuliahan sehingga mahasiswa tidak terlalu takut di DO.

Kebetulan hari itu akan ada rapat guru untuk mempersiapkan ujian murid. Koko ditugaskan untuk memimpin rapat. Aku yang mengetahui tentang rapat itu pun berkata, “Boleh-boleh kataku. Tapi jangan telat ya. Kan Bapak pemimpin rapat nanti”, kataku. “Iya. Iya”, jawabnya. Kokopun segera pergi.

Sekali lagi Koko melakukan kesalahan. Sepertinya dia lupa bahwa istrinya bukanlah orang bodoh. Setelah Koko pergi aku dengan tidak sengaja melihat map yang berisi dokumen dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kuliahnya tertinggal di atas mejanya. Aku juga melihat kacamatanya masih ada. Aku pun menjadi curiga. Mana mungkin dia pergi ke kampus tanpa map dan kacamatanya. Jangan-jangan kampusnya pindah ke tempat lain yang lebih menyenangkan hatinya.

Dengan segera aku memutuskan untuk mencari tahu tentang hal itu. Aku pergi ke tata usaha untuk meminta ijin. “Pak, maaf ya saya pergi dulu”, kataku pada bapak tata usaha. “Mau kemana bu?” pak tata usaha itu bertanya. “Ini, ada urusan sebentar”, jawabku. “Awas lho Bu Jingga, nanti ada rapat. Kalau Bu Jingga nggak ada, Pak Koko nggak ada, bingung nanti pak Dito”, kata bapak itu memperingatkanku. “Iya Pak, beres, tenang aja”, kataku sambil tersenyum dan beranjak pergi.

Sebagai istri, aku memiliki firasat tentang kemana perginya Koko. Aku segera menaiki bemo dengan satu tujuan, sebuah rumah di jalan P. Rumah itu adalah rumah yang dahulu ditinggali Koko bersama keluarganya sebelum bercerai. Saat aku sampai ke jalan P, aku melihat dari kejauhan bahwa motor Koko terparkir tepat di depan rumah yang aku sangkakan itu. Tapi buat apa Koko datang lagi ke rumah ini? Bukankah mantan istrinya telah tinggal di luar kota? Apa mantan istrinya ada di Bandung?

Hatiku langsung terbakar api. Aku teringat bahwa perceraian mereka sebenarnya disebabkan oleh tekanan dari keluarga mantan istrinya itu, bukan keinginan mereka berdua. Pasti mantan istrinya itu memiliki keinginan tersembunyi terhadap Koko. Dengan hati panas, aku berpikir untuk melaporkan hal itu kepada RT agar mereka dipermalukan. Namun, belum sempat aku melakukannya, otakku mengatakan bahwa aku tidak boleh terbawa emosi. Jika aku melaporkannya, bukan mereka saja yang malu tapi akupun akan ikut malu juga. Akhirnya, aku urungkan niatku karena aku tidak ingin membuat keributan. Dengan sekuat tenaga aku menahan amarahku dan kembali ke sekolah.

Saat rapat sudah harus dimulai, Koko masih belum datang juga. Aku pun mengambil alih tugas Koko untuk membuka rapat. Di tengah-tengah rapat, barulah Koko datang. Melihat datangnya Koko membuat hatiku kembali panas. Ingin rasanya aku langsung mencecarnya. Tapi, dihadapanku ada guru-guru dan ini adalah rapat resmi. Aku tidak boleh mencampuradukkan urusan kerjaan dengan urusan pribadi. Dengan kekuatan yang masih ada, kuredam amarah ini.

Seperti sebelumnya, aku teringat kembali pesan nenek untuk tidak pernah bertengkar dengan suami didepan orang lain. Dirumah pun aku menunggu sampai malam dan kami sudah berdua di dalam kamar untuk mulai membicarakan masalah tadi siang.

Saat waktunya tiba, aku memulai seranganku. “Tadi kampus pindah ya pak lokasinya?” tanyaku. “Kok bisa pindah?” Koko balik bertanya dengan bingung. “Kan untuk Bapak mah khusus kampusnya pindah”, kataku. Seketika Koko tertawa terbahak-bahak. “Ibu tuh suka ada-ada aja kalau bercanda”, katanya padaku sambil terus tertawa. “Nggak bercanda. Ini mah serius”, kataku dengan nada tegas. “Ibu tau, itu mah khusus untuk Bapak kampusnya”, lanjutku.

Koko belum mengerti tentang apa yang aku bicarakan. Dia tetap menganggap aku bercanda. Merasa kesal karenanya, aku kembali berkata. “Ibu serius. Lihat mata ibu. Bapak tadi kemana sebelum rapat?” Mataku menatap tajam matanya. “Ke kampus”, jawab Koko singkat. “Kemana tadi Bapak sebelum rapat?” ulangku dengan semakin tegas. “Kok ibu nanyanya kayak gitu? Tau sesuatu ya?” Koko mulai terlihat sedikit takut.  “Memangnya Ibu bloon-bloon amat bisa dibohongin terus sama Bapak?” tanyaku. “Kemarin Bapak bohong. Tidak ada rapat dengan yayasan. Kemana?” aku melanjutkan untuk mendesaknya. Koko menyadari kesalahannya. Ia pun mengaku. “Kemaren kan udah malem. Bapak nggak enak bilang sama Ibu kalau mau nemuin Ibunya Kuncoro. Ada keperluan tentang anak-anak”, jawabnya.

Hatiku langsung hancur mendengar penjelasannya. Apa yang dikhawatirkan oleh ibuku terbukti. Koko menemui mantan istrinya dibelakangku. Mengapa dia tega melakukan ini kepadaku? Dia telah berjanji tidak akan kembali lagi pada istrinya. Jika masalah anak, seharusnya dia tidak perlu menutupi hal itu dariku. Bukankah selama ini aku tidak pernah menghalangi dia untuk menemui anak-anaknya? Bukankah aku tidak pernah menghalangi dia untuk menafkahi anak-anaknya? Setelah menikah, aku sadar bahwa sebagai ayah dia memiliki kewajiban untuk menafkahi anak-anaknya baik secara moril maupun materiil. Jika dia ingin bertemu dengan anaknya atau memberikan uang lebih, bukankah dia seharusnya tinggal mengatakan hal itu padaku?

Aku merasa masih ada yang dia tutupi dari aku. Aku harus membuka tabir kebohongannya. “Tiap bulan udah dibagi dua, gaji Bapak tuh. Udah terang-terangan urusannya selama ini. Ngapain bohong sekarang?” aku bertanya dengan nada tinggi. “Ya maaf”, hanya itu yang dikatakannya. Tak kuasa kutahan amarah ini, kembali aku bertanya padanya, “Ibu tuh kurang gimana sama Bapak? Ibu tuh udah sabar. Ibu tuh udah mengerti tentang urusan Bapak sama anak-anak. Kenapa harus bohong?”

Wajah Koko terlihat begitu pucat. Dengan perlahan dia menjawab, “Bapak tuh takut kalau ibu terganggu. Itu kan waktu istirahat Ibu sama Bapak di rumah”. Suaranya begitu lemah, tetapi tidak bisa menghilangkan amarahku. “Tau begitu kenapa nggak bilang besoknya aja ketemunya? Kenapa harus malam-malam?” Amarahku semakin menjadi. “Bapak tau nggak Pak? Udah haram Bapak tuh ketemu sama Bu Tanjung berduaan. Nggak boleh”, aku kembali meluapkan kemarahanku karena dia hanya berdiam diri. “Kalau Bapak mau balik lagi, kata ibu juga terus terang aja. Silahkan! Ibu mundur”, aku benar-benar sudah kehilangan kesabaran menghadapi Koko yang terlihat begitu menyepelekan masalah ini.

Koko sangat terkejut mendengar perkataanku. Dengan segera dia menjawab, “Ya jangan gitu Bu. Bapak nggak ada niat untuk begitu. Kebetulan anak-anak memang lagi banyak permintaan, Ati minta kado ulang tahun sama bapaknya.” Dia berhenti sebentar kemudian melanjutkan, “Bapak hanya ingin buat anak-anak senang.” Aku merasa kesal mendengar Koko yang menggunakan anak-anak untuk membenarkan kelakuannya. “Bener itu haknya anak-anak, haknya Bapak juga. Tapi ini sama Ibu urusannya, bukan sama anak-anak. Ngapain Bapak harus bohong?” Aku masih belum bisa mengerti dengan keputusannya untuk bertindak dibelakangku. “Maaf-maaf”, kata Koko memohon.

Aku masih belum puas karena kebohongan tadi siang belum terjelaskan. “Terus tadi kenapa harus bohong. Kenapa kampusnya pindah?” tanyaku dengan nada yang masih tinggi. “Kan Bapak nggak bilang kalau kampus pindah”, Koko masih juga belum mau mengaku. Betapa kesalnya hati ini. Ku tahan emosi ini dan berkata dengan tegas, “Pak, Ibu tahu persis dengan mata kepala Ibu sendiri. Dengan kaki ibu sendiri. Tadi siang motor ada di jalan P.” Koko kembali terlihat terkejut, “Lho tau dari siapa ibu?” Suara Koko tergagap. Aku pun tertawa sinis. “Berarti bener kan?” tanyaku. Koko salah tingkah. “Ibu tahu dari siapa?”, ia kembali bertanya. “Ibu tau sendiri. Tadi ibu pake bemo. Tadinya mau ibu labrak tuh. Tapi ibu masih intelek. Ngapain ngelabrak orang bohong. Buang-buang energi. Biar aja, yang dosa Bapak. Bukan dosa Ibu”, kataku dengan pedas.

Koko sudah tidak punya pilihan lagi selain menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan suara yang begitu pelan dia berkata, “Kemarin kan Ati minta kado, jadi Bapak kesana lagi buat memberikan kadonya. Terus ibunya cerita tentang anak-anak. Ati juga buat surat untuk Bapak. Ini suratnya dari Ati.” Aku yang mendengar penjelasannya mulai mengerti tentang alasannya, tetapi rasa kesalku belum hilang. “Ya Bapak tuh terang-terangan aja. Ibu kan nggak akan ngelarang. Ibu nggak suka, tau nggak? Ibu nggak mau suami Ibu dosa masuk neraka, mau nggak?” Aku memelototinya. “Ya, maaf, maaf”, katanya.

Malam itu aku memaafkannya. Walaupun kecurigaanku tidak pernah hilang, aku berusaha untuk meredamnya dan melakukan kewajibanku sebagai istri seperti biasa. Keadaan keluarga kami kembali berjalan seperti biasa sampai pada suatu malam sekitar tiga bulan setelah pertengkaran terakhir kami.

Malam itu dia berkata akan menemui rekan dari Jakarta yang bernama Hendri yang akan memberikan surat pengangkatan dirinya sebagai kepala sekolah. Aku memang mengetahui tentang hal pengangkatannya sebagai kepala sekolah sehingga percaya jika dia akan menemui rekannya itu. Namun, aku melihat hal yang tidak biasa dari Koko. Biasanya Koko tidak berpenampilan formal jika akan bertemu dengan Hendri, tapi kali ini dia terlihat begitu rapi dan tercium wangi parfum yang kuat dari tubuhnya. Kecurigaanku pun kembali muncul tak teredam.

Kebetulan saat itu ibu mertuaku sedang menginap di rumah. Aku pun meminta ijin untuk meninggalkan rumah sebentar dan menitipkan anakku pada ibu mertua dengan alasan aku harus menemui ketua RT untuk membicarakan masalah meteran air. Dengan segera aku naik bemo ke jalan P dan seperti dugaanku, motor Koko ada di depan rumah itu. Api kembali membakar hatiku melihat kenyataan ini. Ingin rasanya aku labrak mereka. Namun kembali lagi, otakku berkata untuk tidak terbawa emosi. Karena aku tidak ingin pergi begitu saja tanpa melakukan apapun, aku memutuskan untuk menulis pesan. ‘Ingat-ingat Allah tidak tidur’. Kuletakkan pesan itu di motor Koko dan segera pulang.

Sepanjang perjalanan, hatiku tidak tenang. Otakku berputar memikirkan apa yang harus aku lakukan pada Koko. Sesampainya di rumah, aku memutuskan untuk menemui ibu mertuaku dan menceritakan apa yang terjadi padanya. Aku merasa ibu mertuaku akan berpikir lebih bijak untuk menyelesaikan masalahku ini. “Kata ibu ketemu aja nggak boleh, ini malah kesana nggak bilang-bilang”, kataku dengan sedih. “Yo wis nanti tak tanya. Paling cuma soal anak-anak”, kata ibu mertuaku untuk menenangkanku. “Tapi Mas Koko bohong sama saya bu”, kataku merajuk. “Iya nanti tak omongin”, kata ibu mertuaku.

Kutunggu kedatangan Koko dengan hati gundah gulana. Saat dia datang, aku langsung bertanya tentang surat pengangkatannya. Memang benar bahwa dia menemui temannya dan mendapatkan surat pengangkatan itu. Ternyata dia menggunakan surat itu sebagai alasan untuk sekalian menemui mantan istrinya, supaya tidak membuat aku curiga. Tetapi aku tidak mudah dibohongi. Aku berkata padanya, “Ya Alhamdulillah, tetapi rejeki itu tidak usah sambil bohong sekalian.” Koko terkejut dan terlihat kesal dengan perkataanku. “Ibu tuh mesti lho bilang Bapak bohong. Bapak kan sudah minta ampun”, katanya. “Ah. Bohong! Ibu tau persis. Ibu tadi ke jalan P pake Bemo. Ini overcoat jadi saksi. Ngapain ke situ malem-malem?” aku langsung menyerangnya.

Wajah Koko berubah pucat seketika. Dia akhirnya bercerita bahwa anak-anak sedang ngambek karena ibunya dijodohkan oleh kakaknya. Menurutnya anak-anak tidak mau bapak yang lain. “Gitu lho Bu, Bapak kan jadi bingung”, katanya. Aku kesal mendengarnya. Mengapa aku jadi harus ikut-ikutan repot dengan urusan mantan istrinya itu? “Itu masalah Bu Tanjung. Kalau dia repot ngurus anak-anak, bawa anak-anak ke sini, biar ibu yang ngurus anak-anak. Atau Ibu saja yang mengundurkan diri biar Bapak ngurus anak-anak dan ngurus Bu Tanjung? Pilih saja!” kataku dengan marah. “Ibu tuh begitu saja ancamannya”, kata Koko. “Habis Bapak bohong melulu”, jawabku.

Ibu mertuaku yang mendengar pertengkaran kami datang mendekat. Dia berusaha menenangkan kami berdua. Ibu mertuaku membelaku dan menasehati Koko agar tidak membohongiku lagi. Kemudian ibu mertua memberikan ide untuk menyelesaikan masalah kami. “Ya kalau begitu, nanti kalau kamu ada urusan apa-apa, berangkatnya sama Jingga”, kata ibu mertuaku pada Koko.

Kami akhirnya setuju dengan ide yang diberikan oleh ibu mertuaku. Hati dan otakku mulai dingin kembali. Setelah kejadian itu, Koko selalu mengajakku serta untuk menemui anak-anak dan mantan istrinya. Hubungan kami pun kembali membaik seiring kembalinya kepercayaanku padanya. Setidaknya Koko tidak berbohong lagi dan aku juga tidak selalu curiga.

Sayangnya, keadaan tersebut tidak bertahan lama. Hanya beberapa bulan setelah itu Koko jatuh sakit. Aku melihat ada sesuatu yang tidak biasa dari sakitnya. Dia terlihat memiliki banyak pikiran. Instingku kembali mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak benar. Aku berusaha untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. “Bapak kenapa sakit?” tanyaku perlahan. “Bapak banyak pikiran Bu”, jawabnya. “Mikirin apa? Sekolah? Sekolah kayaknya nggak ada masalah. Baik-baik aja”, kataku. “Apa mikirin anak-anak mau ujian?” tanyaku lagi. Sebelum dia menjawab aku melanjutkan, “Anak-anak mah biar aja, kan ada orang tuanya. Kita mah ngontrol doang.”

Koko terdiam, dia terlihat ragu. Aku kembali merasakan sesuatu yang tidak benar sehingga jantungku mulai berdetak lebih kencang. Setelah beberapa lama, akhirnya dia berkata, “Gini Bu. Bagaimana kalau kita ngontrak rumah yang lebih besar?” Aku terkejut dengan pertanyaannya. Mengapa tiba-tiba Koko menawarkan rumah yang lebih besar padahal kami tidak ada masalah dengan rumah yang kami tinggali saat ini. “Untuk apa? Mentang-mentang jadi kepala sekolah mau rumah yang lebih besar. Sekarang mah ngumpulin uang aja, nabung buat masa depan anak-anak”, kataku.

Aku menunggu jawaban Koko dengan bingung. Aku tidak tahu ada apa dengan jalan pikiran Koko. Dia bukanlah orang yang suka bermewah-mewah. Penawarannya ini tidak wajar. Pasti ada sesuatu yang membuatnya berpikir seperti itu. Tapi apa itu? Aku tidak tahu.

Kecurigaan hatiku ternyata beralasan. Koko memang menyimpan keinginan tersembunyi. Sesuatu yang tidak pernah terbersit sedikitpun di benakku. Sesuatu yang membuat hatiku hancur berkeping-keping saat mendengarnya berkata, “Ya ini juga demi kepentingan anak-anak. Bagaimana kalau kita ngontrak rumah yang besar? Ibu sama De Tanjung jadi satu ngurus anak-anak. Kita jangan memikirkan perasaan masing-masing. Kita pikirkan anak-anak saja”.

_____________________________________________________________

Pengantar        BAB I         << Bab Sebelumnya       Bab Selanjutnya >> 


Sabtu, 22 November 2014

Mengapa Aku Memilih Poligami - Bab II



Sedetik setelah Toni melangkah pergi, tangisku jatuh tertumpah tanpa bisa ku tahan. Ketegaranku dihadapan Toni tadi hanyalah sebuah bentuk pertahanan untuk menjaga harga diriku supaya tidak hancur karena hanya harga diri yang kupunya saat ini. Aku menangis tersedu-sedu tanpa mempedulikan apa-apa lagi. Yang ada hanya rasa sakit dalam hati yang hancur berkeping-keping. Teganya dia padaku.

Dalam tangisku, muncul banyak pertanyaan dalam kepalaku. Mengapa ini terjadi? Aku sudah merelakan pendidikanku untuk dihentikan sementara agar dia bisa menyelesaikan kuliahnya. Aku sudah rela kehilangan kehidupan sosialku dengan lebih banyak berdiam diri di rumah sesuai keinginannya. Aku sudah berusaha keras menjadi istri terbaik dengan mengurus semua kebutuhan rumah dan juga kebutuhannya. Namun apa yang kudapatkan saat ini? Bukannya kasih sayang dan pujian yang kudapatkan dari usaha kerasku itu, tapi aku dicampakkan seperti sampah. Tanpa pemberitahuan. Tanpa mediasi. Tanpa sidang. Aku menerima surat talak dari suamiku disaat aku baru saja kehilangan salah satu orang paling penting dalam hidupku.

Setelah aku selesai menumpahkan kesedihanku, aku berdiri untuk mengambil wudhu dan sholat. Aku tahu bahwa dalam keadaan seperti ini, tidak ada yang bisa menolongku selain Tuhan pencipta alam yang maha pengasih dan maha penyayang. Aku memohon ampun pada Allah karena diberi cobaan seperti ini. Jika ini adalah sebuah hukuman, berarti aku telah melakukan kesalahan dalam berumah tangga. Aku memohon pada Allah untuk diberi kekuatan dan pikiran yang terang untuk bisa melanjutkan hidup tanpa Toni.

Selang berapa lama, ibuku datang bersama adik-adikku. Nenek sepupuku yang ternyata mendengarkan pembicaraan aku dengan Toni menceritakan apa yang terjadi pada ibuku. Tentu saja ibuku begitu terkejut mendengar ceritanya. Ibuku tidak bisa percaya bahwa aku telah dicerai oleh suamiku dan amarahnya pun meledak. “Kurang ajar. Anakku diperlakukan seperti itu. Tidak ingat ya waktu dia pengennya. Tidak ingat ya bagaimana perlakuan dia sama istrinya, anakku diam saja, sabar saja”, kata ibuku dengan suara keras.

Ibuku segera menuju kamarku dan memintaku untuk keluar. Namun, aku yang masih begitu sedih tidak memiliki tenaga untuk beranjak. Karena pintu tidak dikunci, ibuku membuka pintu dan langsung memelukku sambil menangis. “Sabar ya Neng, sabar,” ucap ibuku berulang kali. Aku yang tidak tega melihat tangis ibuku, berusaha untuk tegar dan menenangkannya. Walaupun aku begitu hancur, aku berusaha untuk terlihat kuat dihadapan ibuku saat itu.

Namun, seberapapun aku berusaha untuk tegar, aku tetaplah seorang wanita biasa yang memiliki hati rapuh. Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan merenungi nasibku. Aku mengurung diri di kamar dan hanya keluar untuk ke kamar mandi, wudhu, dan makan. Aku seperti gila saat itu. Bukan karena kehilangan dia, tapi aku gila karena tidak percaya dengan keadaanku saat itu. Aku harus hidup sendiri sedangkan pendidikanku belum selesai. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan ilmu yang kudapat selama ini. Aku hanya bingung dan bingung setiap hari dengan terus mencurahkan isi hati pada Allah. Hal ini terjadi selama hampir satu bulan.

Setelah mengalami hari-hari yang sangat membingungkan, aku akhirnya mulai bisa menenangkan diri dan ikhlas menerima perceraian ini. Aku mulai keluar kamar untuk berbincang dengan ibuku. Namun, aku masih belum bisa berbuat banyak sampai ada kejadian yang akhirnya menyadarkanku dari kesalahanku.

Hari itu, aku sedang berada di dalam kamar. Adik perempuanku yang bernama Upi pulang sekolah sambil berteriak senang. “Mamah Mamah, Upi mau piknik ke Bandung. Mau ke kebun binatang. Itu pelajaran lho mah. Pelajaran ilmu hayat untuk dicatet”, kata Upi. “Ya”, ibuku menjawab. “Boleh ya Mah?” Upi bertanya. “Ya”, kata ibuku lagi. “Tapi Mah harus bawa uang 2500 lho mah”, Upi menjelaskan. “Aduh, kalau bawa uang 2500 Mamah nggak ada uang. Dari mana ya? Mamah belum gajian”, kata ibuku. “Wah gimana Mah? Kan itu tuh untuk ongkos masuk sama ongkos mobil”, Upi mendesak. “Yah nanti-nanti ya”, jawab ibuku.

Tak berapa lama, Ali juga datang sambil berteriak. “Mah Mah, Ali mau kemah pramuka. Kemahnya sekabupaten lho ini”, kata Ali. “Ya syukur”, kata ibuku. “Biayanya 2500 Mah”, Ali menambahkan.”Ya nanti”, kata ibuku menghindar. “Boleh kan Mah?”, Ali memohon. “Aduh Upi 2500, Ali 2500”, ibuku mengeluh. “Tapi Ali cuma itu doang kok Mah, anak perempuan yang bawa beras, anak laki-laki mah nggak harus bawa beras”, kata Ali membela diri. “Iya, tapi Mamah teh lagi nggak punya uang”, ibuku menjelaskan.

Kedua adikku terus saja mendesak Ibu untuk mengabulkan permintaan mereka. “Nurunin kelapa aja atuh Mah”, kata Ali. “Aduh baru aja kemaren nurunin kelapa”, jawab ibuku. “Jual padi aja atuh”, kata Upi. “Yeh padi mah untuk makan”, ibuku kembali menolak. “Mah ceceu mah, ceceu pasti punya uang”, kata Ali. “Eh, tau nggak, ceceu kamu teh lagi sakit. Untung nggak gila ceceu kamu teh. Mamah mana berani minta sama ceceu”, kata ibuku.

Mendengar kata-kata ibuku, aku jadi tersentak. Astagfirullaaaaaah. Apa yang telah aku lakukan selama ini? Mengapa aku menjadi tidak berguna seperti ini? Bukankah aku sudah berjanji pada Ayah untuk membantu ibu menyekolahkan adik-adik? Mengapa aku tidak ingat pada tanggung jawab yang sudah dibebankan di pundakku? Aku telah mengecewakan Ayah dan aku sudah menambah penderitaan ibu.

Sebuah kekuatan muncul dalam diriku. Akupun segera keluar kamar. “Ada apa ini?” tanyaku. Adik-adikku langsung menyambut aku dan menceritakan yang terjadi dengan penuh semangat. “Boleh ya ceu?” mereka memohon. “Iya boleh,” kataku pada mereka yang langsung berteriak senang. “Tuh kan Mah, kalau minta ceceu pasti ada”, kata mereka. Hatiku terharu melihat kegembiraan mereka. Dengan lembut, aku meminta mereka untuk berganti pakaian, makan, dan kemudian mereka bisa bermain.

Setelah berpikir beberapa saat, aku berbicara pada ibuku. Aku memberikan beberapa perhiasanku dan meminta ibu untuk menjualnya agar kami bisa membiayai kebutuhan adik-adik. Awalnya ibuku menolak dan mengatakan bahwa aku tidak perlu melakukan itu hanya untuk membiayai wisata dan kemah. Namun aku memaksa karena aku sudah berjanji. Akupun menjelaskan pada ibu bahwa uang hasil penjualan perhiasan itu juga akan aku pergunakan untuk biaya ke Bandung supaya aku bisa mencari pekerjaan. Ibuku akhirnya menyetujui permintaanku.

Aku berjanji pada Ibu untuk menyekolahkan adik-adik di SMA agar ibuku bisa fokus menyekolahkan adik-adik sampai SMP. Sebenarnya aku masih bingung apa yang harus kulakukan, tetapi aku menguatkan hati dan tekad. “Bismillah Mah”, kataku pada Ibu. “Ya syukurlah kalau Jingga berpikir begitu, tidak usah dipikirin laki-laki mah”, kata ibuku.

Dengan uang sisa hasil penjualan perhiasan, aku pergi ke Bandung. Aku mengontrak rumah dibelakang kos Bunga. Aku meminta Bunga dan Juna untuk tinggal bersamaku. Disaat aku akan mencari pekerjaan, aku kembali bingung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuanku. Selain itu, aku juga masih dihantui oleh perasaan sedih karena perceraian yang tidak jua hilang. Aku kembali gamang dengan hidup dan banyak merenung. Aku bahkan menjadi perokok. Dalam sehari, aku bisa menghabiskan berbatang-batang rokok.

Aku cukup beruntung karena masih ada masa disaat aku sadar bahwa aku tidak boleh terus menyiksa diri dan mengambil langkah untuk memperbaiki hidup aku dan keluarga. Akupun memutuskan untuk pergi ke kampus dan mencari informasi tentang pekerjaan yang bisa aku lakukan. Alhamdulillah, aku mendapatkan informasi yang kubutuhkan dan akupun melamar pekerjaan di pabrik sebagai staff laboratorium. Alhamdulillah, aku mendapatkan pekerjaan dengan honor yang lumayan untuk seorang pemula sepertiku.

Bekerja di pabrik ternyata tidak menyenangkan. Walaupun aku bekerja di laboratorium yang notabene tidak banyak masalah, aku tidak kuat menghadapi situasi pabrik yang ternyata sangat keras. Aku sering mendengar para pegawai dimarahi dengan kata-kata yang tidak pantas. Aku juga sering mendengar para pegawai berbicara dengan kata-kata yang kasar. Karena hatiku yang masih rapuh, aku tidak kuat dan sering ikut sakit hati saat mendengar kata-kata keras dan kasar itu. Karena tidak kerasan, akupun berhenti dan pindah kerja di pabrik lain. Situasi di tempat kerjaku yang baru ternyata tidak jauh beda dengan sebelumnya sehingga akupun memutuskan untuk keluar.

Setelah gagal bekerja di pabrik, aku kembali ke kampus untuk mencari informasi pekerjaan yang lain. Disana aku bertemu dengan kakak kelas yang juga saudara jauh dari Toni. Kakak kelasku itu bekerja di sekolah tinggi swasta dan mengajakku untuk mengajar di sana. Karena dia masih saudara jauh dari Toni, aku menolak ajakan itu. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan Toni sehingga berusaha menjaga jarak sejauh mungkin, termasuk menjaga jarak dari siapa saja yang berhubungan dengan Toni. Untung saja kakak kelasku itu mengerti dan tidak terus memaksaku.

Disaat aku sedang duduk termenung di kampus, datanglah kakak kelasku lainnya yang bernama Ovi. Dia menanyakan kabarku dan akupun menceritakan padanya jika aku sedang mencari pekerjaan karena harus mengurus keluargaku. Mendengar ceritaku, Kak Ovi merasa simpati. Dia memberitahukan aku bahwa ada lowongan di sebuah sekolah kejuruan. Lowongan yang tersedia adalah sebagai guru praktikum di bidang kimia tekstil. Aku tertarik dengan lowongan itu dan berkata pada Kak Ovi bahwa aku akan melamar.

Setelah mempersiapkan semua kebutuhan, akupun melamar ke sekolah tersebut. Aku sangat beruntung karena tanpa proses yang berbelit, aku diterima untuk mengajar di sekolah tersebut. Sekolah tersebut adalah sekolah yang baru dua tahun beroperasi sehingga membutuhkan tenaga-tenaga baru untuk mengembangkan sekolah tersebut.

Hari pertama mengajar adalah hari yang cukup berat. Walaupun aku akan mengajar di bidang yang aku kuasai, tetapi aku belum pernah mengajar sebelumnya sehingga aku merasa tidak percaya diri. Aku begitu gugup saat akan berangkat, tetapi aku menguatkan diri dan melangkahkan kaki dengan keyakinan diri.

Namun, cobaan pertama ternyata bukan datang dari murid-murid yang aku hadapi, tetapi dari salah seorang guru. Saat itu aku sedang berkenalan dengan staff  tata usaha sekolah. Tiba-tiba ada seorang guru laki-laki yang mendekat. Staff tata usaha yang ada didepanku langsung memperkenalkan aku sebagai guru baru kepada guru di bidang kimia industri yang bernama Koko itu. Bukannya ucapan selamat bergabung yang kudapatkan, tetapi sindiran sinis yang keluar dari mulutnya. “Memangnya dia bisa ngajar apa? “, katanya sambil melirik ke arahku. ”Kelihatannya tidak meyakinkan”, tambahnya. Mendengar ucapannya, aku merasa tersinggung. Akupun berjanji pada diriku sendiri untuk bekerja keras dan membuktikan padanya bahwa aku mampu.

Bekerja sebagai guru ternyata sangat membahagiakan. Pekerjaan aku dihargai dengan baik, bahkan aku diberi kesempatan untuk mengajar di kelas. Di sekolah, aku juga mendapat ketentraman karena semua orang saling menghormati satu sama lain. Memang aku masih perang dingin dengan guru bernama Koko. Berbulan-bulan aku pelit bicara dengannya. Namun, selain masalah dengannya, aku sangat bahagia bekerja di sekolah.

Sekitar enam bulan setelah aku bekerja sebagai guru, tiba-tiba ada kejutan. Toni datang menemuiku. “Akang pengen kita kembali lagi”, kata-kata mengejutkan itu keluar dari mulutnya. Dia menggunakan berbagai kata-kata manis bahwa dia akan berubah dan ingin memulai semuanya dari awal. Yang lebih mengejutkan lagi, dia mengajakku untuk melihat rumah yang telah dibelinya untuk kami tinggali jika kami telah menikah nanti. “Biar kita tidak diganggu keluarga,” begitu katanya.

Aku merasakan kegalauan yang luar biasa dengan permintaannya untuk kembali menikah. Aku merasa takut, tetapi disudut hatiku, aku merasa senang dengan semua janji yang diberikannya. Cintaku padanya masih besar dan aku berharap bahwa kali ini kami akan sanggup membina rumah tangga yang kuat dan langgeng sampai akhir hayat.

Karena aku masih sangat trauma dengan perlakuan ibunya padaku, aku memberikan syarat padanya. “Yang membuat kita cerai kan Mimih. Kita tidak ada apa-apa, kita baik-baik saja, tetapi Mimih meminta kita cerai. Jadi eneng maunya Mimih datang langsung dan memberikan restu pada eneng untuk kembali sama Kang Otong,” begitu kataku. Toni terkejut dengan permintaanku, tetapi dia berusaha untuk memenuhinya. “Iya, nanti Akang usahakan”, katanya.

Harapan besar kembali muncul dalam hatiku. Namun, harapan itu sedikit-demi sedikit mulai terkikis. Dua bulan aku menunggu tanpa ada sedikitpun kabar dari Toni. Dengan kegelisahan dalam dada, aku berusaha menjalani hidup seperti biasa. Aku berusaha lebih memfokuskan diri pada pekerjaanku karena mencari uang adalah tujuan utamaku saat itu demi ibu dan adik-adikku.

Pada suatu hari, aku berkunjung ke rumah Kang Hari. Nia, istri Kang Hari adalah sahabatku dan dia sedang mengandung. Ketika aku sedang berbincang dengan Nia di dalam kamar, tiba-tiba ada tamu datang. Ternyata tamu tersebut adalah Toni. Yang sangat mengejutkan, Toni tidak datang sendiri. Dia bersama seorang wanita. “Kenalin, ini bojoku yang baru”, aku mendengar perkataan Toni pada Kang Hari.

Aku kembali hancur mendengar kata-kata Toni. Bagaimana mungkin Toni kembali menyakitiku? Aku terpuruk, tetapi Nia meyakinkan aku bahwa aku harus menemui Toni. Nia bilang aku harus terlihat tegar dan kuat untuk menunjukkan pada Toni bahwa aku bukanlah perempuan yang bisa dipermainkan.

Aku melakukan apa yang diminta Nia dan menemui Toni dengan kepala tegak. “Eh ternyata ada Neng Jingga”, kata Toni yang terkejut melihatku. “Iya kebetulan sedang main ke sini”, jawabku. “Oh, kenalin istri aku yang sekarang”, kata Toni. “Oh sudah nikah, dikirain teh, ditunggu-tunggu beritanya”, kataku. “Iya, kebetulan ketemu sama dia”, jawabnya. Aku memperkenalkan diri sebagai teman Toni dan Kang Hari. Tidak ingin berlama-lama aku kembali ke kamar dengan alasan menemani Nia yang sedang sakit.

Pengalaman menyakitkan dengan Toni membuat aku tidak percaya terhadap laki-laki. Yang lebih menyakitkan lagi, belum sampai setahun Toni menikah, aku mendapatkan kabar bahwa dia dan istrinya telah memiliki anak. Jika dia bisa memiliki anak, berarti aku yang memiliki masalah. Hatiku begitu hancur dan menjadi tidak percaya diri bahwa akulah yang tidak bisa memiliki anak.

Lebih dari satu tahun aku hanya menyibukkan diri dengan pekerjaan tanpa memikirkan laki-laki. Aku hanya fokus pada pekerjaanku dan mencoba berhubungan baik dengan orang-orang disekitarku. Bahkan aku mulai melunak kepada Koko karena beberapa guru menasihatiku untuk tidak terus membencinya. Menurut beberapa guru, Koko memang sering bergaya dan sok saat bertemu guru baru, tetapi aslinya dia orang baik.

Berdamai dengan diri sendiri dan tidak pernah memikirkan Toni lagi ternyata tidak cukup untuk menghapus Toni dalam hidupku. Pada suatu hari, datanglah adik Toni menemuiku. Dia menceritakan keadaaan Toni yang sudah bercerai dan ditipu oleh istrinya. Adiknya memintaku untuk mengasihani Toni dan kembali padanya. Terang saja aku menolak. Sudah berkali-kali dia menyakitiku dan aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Aku tidak menyesal dengan keputusanku dan kembali fokus pada pekerjaan. Setelah dua tahun mengajar, murid kami semakin banyak. Dewan sekolah memutuskan untuk mengangkat dua orang wakil kepala sekolah untuk membantu kepala sekolah yang mulai kesulitan dalam mengurus berbagai macam masalah. Yang terpilih adalah aku dan Koko.

Dengan adanya tugas baru, mau tidak mau aku harus sering berhubungan dengan Koko. Setelah mengenalnya lebih jauh, ternyata, Koko tidaklah jahat. Dia hanyalah seseorang yang senang ceplas ceplos dan jika bercanda suka kelewatan. Setelah aku lebih mengenal pribadinya, aku mengetahui bahwa dia adalah tipe lelaki penyayang, terutama terhadap keluarganya. Aku juga pernah bertemu dengan istrinya beberapa kali dan terlihat jelas bahwa Koko menyayangi istrinya itu.

Setelah melalui masa yang cukup tenang, ada kakak kelas semasa aku kuliah yang datang untuk melamar sebagai tenaga honorer di sekolah tempatku mengajar. Namanya Dede. Karena sekolah kami memang membutuhkan tenaga, dia diterima untuk mengajar. Dengan adanya dia, akupun teringat masa lalu. Dahulu aku pernah punya hati untuknya karena dia ganteng, tinggi, dan mempesona. Kenangan masa lalu membuat aku dekat dengannya dan kami pun memulai masa pendekatan.

Namun, belum sampai kami jadian, aku mendapatkan kabar yang menyakitkan bahwa ternyata dia sudah dijodohkan dengan anak bosnya. Saat aku menanyakan masalah itu dengannya, dia membenarkan hal tersebut tetapi dia menyakinkan aku bahwa dia hanya mencintaiku. Aku tidak bisa menerima penjelasannya dan memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya. Tidak mungkin bagiku untuk mengambil resiko. Lagipula aku tidak melihat ada keyakinan dalam dirinya bahwa dia akan mampu menolak perjodohan itu.

Kembali disakiti oleh laki-laki, aku menjadi berhenti berharap pada laki-laki. Namun, statusku sebagai janda muda terus menggangguku. Banyak kudengar perkataan miring tentangku. Bahkan aku pernah di panggil oleh Pak RW karena warga mengira aku adalah perempuan nakal. Warga melapor bahwa mereka sering melihat beberapa pemuda datang mengunjungiku. Padahal, pemuda-pemuda itu adalah murid-muridku yang datang untuk meminta bimbingan belajar.

Tidak ingin terus menjadi bahan pembicaraan dan difitnah, aku berusaha untuk kembali membuka hatiku. Saat itu ada guru olahraga yang mengatakan bahwa telah lama dia suka padaku. Namanya Cipto. Sebenarnya aku tidak yakin untuk menerimanya karena dia masih perjaka, tetapi melihat kesungguhan dan kebaikannya, aku sulit untuk menolak.

Hubunganku dengan Cipto berjalan baik. Kami juga mendapat dukungan dari orang-orang disekitar kami, termasuk guru-guru di sekolah. Bahkan, Koko yang selama ini suka mengejekku justru sangat mendukung, Beberapa kali Koko membelikan tiket nonton untuk kami.

Sayangnya, hubunganku dengan Cipto juga tidak berlangsung lama. Beberapa bulan setelah kami berhubungan, Cipto dikirim ke luar negeri untuk  menemani tim olahraga yang mendapatkan kesempatan untuk pertukaran pelajar. Sebelum Cipto pergi, dia mengatakan padaku bahwa hubungan jarak jauh tentunya akan sulit untuk kami hadapi. Oleh karena itu, dia meminta agar kami menjalani hidup masing-masing. Jika kami berjodoh, tentunya kami akan mendapatkan jalan untuk bersama, tetapi jika tidak, maka kami tidak perlu merasa berat jika ada jalan lain yang lebih baik untuk diri masing-masing.

Setelah kegagalan dengan Cipto, aku kembali menikmati kesendirianku. Guru-guru yang mengetahui kegagalan hubungan kami, berusaha untuk memberikan semangat padaku untuk tetap tegar walaupun sesekali mereka meledekku. Aku bahagia dengan hidupku saat itu. Aku merasa hidup sendiri jauh lebih baik bagiku sampai akhirnya ada kejadian mengejutkan di sekolah. Kami guru-guru mendapatkan berita bahwa Koko bercerai dengan istrinya.

Perceraian tersebut sepertinya sangat berat bagi Koko karena dia terlihat begitu terpukul dan kehilangan arah. Di sekolah, dia hanya berdiam diri dan termenung. Dia tidak mengajar, dia tidak pernah bercanda lagi dengan guru-guru, bahkan dia tidak berbincang dengan kami lagi. Dia terlihat sangat tidak terawat dan menyedihkan. Aku tidak tega melihatnya. Bagaimana mungkin seseorang yang dahulu begitu percaya diri dan keras bisa menjadi lemah tak berdaya seperti itu.

Keadaan Koko mendapat perhatian dari para guru, termasuk kepala sekolah. Setelah bermusyawarah, diputuskan bahwa beberapa guru perempuan diharapkan untuk membantu Koko dengan cara mengurus makannya dan membantu menyiapkan beberapa kebutuhannya. Guru perempuan dipilih karena perasaan perempuan lebih halus dan lebih pandai mengurus orang. Aku adalah salah satu guru wanita yang ditugaskan.

Kami para guru wanita berusaha keras untuk membantu Koko. Kami  juga berusaha untuk mengembalikan semangat Koko. Setelah melakukan pendekatan, akhirnya aku dan guru lainnya bisa membuat Koko kembali bersemangat. Ia kembali mengajar dan mulai kembali bergaul seperti sebelumnya.

Setelah kejadian itu, aku dan Koko semakin dekat. Kami saling menghibur satu sama lain. Aku mulai merasa bahwa dia menyukaiku dan rasa empatiku padanya pun sepertinya berubah menjadi suka. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana ini terjadi, tetapi itulah kenyataannya. Selain itu, para guru, termasuk kepala sekolah mendorong kami untuk segera jadian.

Ternyata Koko juga menyimpan perasaan padaku. Sekitar lima bulan setelah perceraiannya, dia berkata padaku, “ Kelihatannya kita berdua saling cocok. Gimana kalau kita membangun rumah tangga lagi? Neneng kan sudah lama sendirinya. Mau nggak kalau kita menikah?” Aku menjadi galau mendengar permintaannya, tetapi ada rasa bahagia di sudut hatiku. Tidak berapa lama, Koko mengenalkanku pada ibu dan adiknya. Ibunya bercerita padaku tentang alasan perceraian Koko dengan istrinya yang membuat aku mengerti mengapa dia begitu terpukul.

Dengan segera aku menceritakan lamaran Koko pada ibuku. Di luar dugaanku, ibuku justru kurang setuju jika aku menikahi Koko. Ibuku takut jika suatu saat Koko akan kembali pada mantan istrinya. “Janganlah, biasanya ada alasan anak, jadi dia menemui istrinya”, kata ibuku. “Tetapi gimana ya mah, Jingga kan sudah lama menjanda. Nggak enak ternyata.  Suka ada fitnah. Kalau ada suami kan setidak-tidaknya bisa tenang”, kataku pada Ibu. Akhirnya ibuku tidak melarang, ia mengembalikan semuanya padaku karena aku yang akan menjalaninya.

Sebenarnya aku merasa tidak nyaman dengan perkataan ibu, tetapi entah mengapa aku tetap merasa yakin untuk menikahi Koko. Aku merasa kebaikan hati Koko tidak dibuat-buat. Walaupun dia suka ceplas-ceplos tetapi yang dikatakannya benar. Dia juga paling bisa membuat aku senang dengan cara mengikuti berbagai macam kemauanku. Tidak seperti Toni yang egois. Selain itu, kenyataan bahwa dia adalah duda dengan tiga anak justru membuat aku tenang karena aku yakin bahwa dia tidak akan menuntut anak dariku. Aku tidak perlu takut jika ternyata aku memang tidak diberi karunia untuk bisa mengandung anakku sendiri.

Memang, menikah dengan Koko saat itu mungkin terlalu cepat karena Koko baru saja bercerai. Namun, aku adalah seorang janda yang sudah terlalu lama menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Aku juga menyadari bahwa sebagai seorang janda, aku sudah tahu bagaimana rasanya berhubungan suami istri. Aku takut jika aku terlalu lama berhubungan dengan Koko, aku tidak bisa mengendalikan nafsu dan jatuh ke dalam jurang dosa. Selain itu, walaupun hubungan asmara kami terbilang cukup singkat, aku sudah mengenal Koko sejak lama sehingga aku merasa tidak perlu berpacaran lama. Lagipula, masa laluku dengan Toni membuktikan bahwa berpacaran lama tidak menjadi jaminan sebuah pernikahan akan berhasil.

Saat aku bertemu dengan keluarga Koko, dia mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang ingin dinikahinya. Orang tuanya menyambut baik keinginan kami. Mereka justru ingin kami segera menikah. “Kalian itu sudah dewasa, tidak baik kalau berlama-lama”, begitu kata ibunya. Saat aku menceritakan pada orang tuanya tentang ketakutanku, mereka meyakinkanku bahwa Koko tidak akan kembali kepada istrinya. Ibunya bahkan meminta Koko membuat surat perjanjian bahwa dia tidak akan kembali pada istrinya demi meyakinkan aku. Dengan adanya perjanjian tersebut dan dukungan penuh dari keluarga Koko, akhirnya aku memantapkan diri untuk menikahi Koko. Tapi aku juga berkata pada keluarganya, “Kalau misalnya Mas memang mau kembali pada istrinya, saya tidak apa-apa kok jika berpisah”.

Selain dukungan dari keluarga Koko, secara mengejutkan aku juga mendapat dukungan dari keluarga besarku. Sebenarnya, menikahi orang Jawa tidak diperkenankan di keluargaku. Menurut mereka orang Jawa itu keras sehingga akan membawa banyak masalah bagi kami. Namun, saat bertemu dengan Koko yang lemah lembut, sopan santun, dan bisa berbahasa Sunda dengan baik, mereka menjadi suka dengan Koko.

Tapi, dunia memang sangat mengejutkan. Disaat aku sudah mantap dengan keputusanku, tiba-tiba ada kejadian yang membuat hatiku menjadi galau. Tanto teman kuliahku  yang dahulu begitu sakit hati mendengar berita pertunanganku datang menemuiku di rumah. Dia bercerita bahwa dia sudah bercerai dengan istrinya yang menghianatinya. Saat mendengar bahwa aku sudah bercerai dengan Toni, dia jadi memiliki harapan lagi untuk bisa bersatu denganku. Belum sempat aku menjawab, Koko datang. Dengan  berat hati, aku memperkenalkan Koko sebagai calon suamiku pada Tanto. Terlihat sekali kekecewaan di mata Tanto, tetapi dia berjiwa tegar. Dia justru mengobrol banyak dengan Koko. Mereka cepat akrab karena keduanya adalah orang Jawa. Saat akan pulang, Tanto berkata, “Kamu bener pilih dia, orangnya baik”.

Walaupun ada berbagai kejadian yang mengusik hati, pada akhirnya aku mendapatkan kemantapan hati yang sudah tidak tergoyahkan. Di akhir bulan Desember, aku menikah dengan Koko, tiga setengah tahun setelah perceraian aku dan enam bulan setelah perceraian Koko. 

____________________________________________________________________