Jumat, 22 Agustus 2014

Perselingkuhan Terakhir - BAB VI



BAB VI

Endra dan Wafa semakin dekat saja. Hampir setiap hari mereka bertemu jika Endra atau Wafa tidak keluar kota. Kalaupun mereka tidak bisa bertemu, mereka menghabiskan banyak waktu di telfon, video chat, atau video call. Endra merasakan kebahagiaan yang amat sangat dan Wafa pun merasakan hal yang sama. Wafa begitu yakin jika semua rencananya akan berjalan lancar.

Di lain pihak, ada sepupu yang merasakan hal berbeda. Walaupun Sigra merasa senang melihat Endra bahagia, masih ada ganjalan di hatinya.

“Kamu yakin Wafa itu cewek baik-baik?” Sigra akhirnya memberanikan diri menyampaikan kekhawatiannya pada Endra setelah lebih dari enam bulan sepupunya itu tidak bisa lepas dari Wafa.

“Kamu kayaknya nggak suka banget aku sama Wafa.” Endra menjawab sekadarnya dan meneruskan memeriksa laporan keuangan perusahaan.

Sigra tahu bahwa tidak mudah meyakinkan Endra, tapi dia akan merasa bersalah jika tidak melakukan apapun. “Bukan nggak suka, cuma semua ini tuh aneh banget.”

“Aneh dimananya?” Endra berhenti memeriksa berkas yang ada di tangannya. Matanya menatap sepupunya yang terlihat tidak nyaman.

“Gimana ya ngomongnya… Ehm…kata Sandra, Wafa itu cewek alim.” Sigra berkata pelan dan berusaha tidak terdengar menghakimi.

“Kapan kamu ketemu Sandra?” Mendengar Sigra menyebutkan nama Sandra, Endra menjadi curiga. Sepertinya ada yang tidak beres jika Sigra bertemu Sandra untuk membicarakan hubungannya dengan Wafa.

“Dulu… udahlah itu nggak penting, yang penting sekarang itu kamu sama Wafa.” Sigra berusaha mengembalikan topik pembicaraan.

“Oke.. trus?”

“Kalau memang dia cewek alim, kenapa dia mau berhubungan sama kamu?” Sigra mengangkat kedua tangannya.

Endra tidak menjawab. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Sigra. Endra tahu benar bahwa sepupunya itu tidak pernah menjelek-jelekkan orang tanpa bukti yang jelas. Jika Sigra berusaha untuk menjelekkan Wafa, mungkin Sigra mengetahui sesuatu tentang Wafa yang tidak diketahuinya.

Sigra melanjutkan analisisnya. “Kalau memang dia cewek alim, dia harusnya tau kalau mengganggu suami orang itu dosa.” Sigra berhenti untuk melihat reaksi Endra. Saat Endra tidak bereaksi, Sigra melanjutkan. “Beberapa kali aku ketemu kamu sama dia, aku liat dia nggak keberatan kamu peluk, bahkan kamu cium.” Sigra menarik nafas. “Cewek alim nggak akan begitu.”

“Jadi maksud kamu dia cewek nakal yang pura-pura jadi alim?” Nada bicara Endra meningkat. “Yang dimaksud alim sama Sandra itu rajin sholat.” Endra menatap tajam mata Sigra. “Jaman sekarang banyak cewek rajin sholat yang senang banget ciuman. Lagian aku cuma cium pipi dia, nggak pernah lebih dari itu.

Sigra sedikit kebingungan dengan apa yang akan dikatakannya. Terlihat jelas jika Endra begitu membela Wafa, tapi dia juga takut jika Endra menyesal nantinya. “Pokoknya ada yang terasa ganjil sama Wafa itu.”

“Kamu nggak suka aku seneng?” Wajah Endra mulai memerah.

“Bukan gitu, justru aku takut kalau ternyata ini semua berakhir dengan cara yang nggak baik. Jangan salah sangka.” Sigra berusaha keras menenangkan sepupunya.

“Kamu yang bikin aku salah sangka.” Endra masih terdengar begitu emosi.

“Aku cuma khawatir sama kamu.” Sigra berusaha memperbaiki posisi duduknya yang terasa tidak nyaman, walaupun ketidaknyamanan itu sebenarnya disebabkan oleh hatinya.

“Aku udah gede, nggak perlu kamu kuatirin.” Endra kembali lagi pada berkasnya. Dia merasa tidak perlu lagi memperhatikan sepupunya.

“Kamu udah tau latar belakangnya?” Sigra bukan orang yang mudah menyerah. Dia tetap berusaha membuat Endra berpikir.

“Maksudnya?”

“Siapa keluarganya. Orang-orang sekitar dia seperti apa?”

“Aku pacaran sama dia, bukan mau nikahin dia.”

“Justru itu.” Akhirnya Sigra mendapatkan kata yang tepat untuk menarik perhatian Endra.

Kali ini Endra benar-benar penasaran dengan sepupunya. Namun dia tidak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menatap Sigra dengan pancaran keingintahuan yang besar.

“Kamu biasanya nggak pernah pacaran lebih dari satu bulan. Kalau kamu suka, kamu nikahin dan kalau kamu nggak suka, kamu putusin.”

Yang dibicarakan Sigra adalah kenyataan dan hal itu membuat Endra menyadari bahwa ia telah mengalami sesuatu yang berbeda. Dia pun mulai berpikir.

“Hubungan kamu kali ini benar-benar spesial dan aku nggak mau kamu melakukan kesalahan.” Sigra melanjutkan untuk menjelaskan kekhawatirannya.

“Aku…” Endra menjadi bingung harus berkata apa. Hubungan dia dengan Wafa benar-benar spesial seperti yang dikatakan Sigra. Tapi dimana letak kesalahannya?

“Kalau Wafa benar-benar cinta sama kamu, dia nggak akan mau sekedar pacaran sama kamu.” Sigra berhenti sebentar sebelum melanjutkan. “Dia  nggak seperti istri-istri kamu yang lain, dia punya uang dan kedudukan…. Yang pasti dia nggak akan mau jadi istri simpanan.”

Kata-kata Sigra membuat Endra resah. Sedikit rasa takut mulai muncul di hatinya. Namun dia terlalu bahagia untuk berpikir negatif. “Kita liat aja nanti.”

“Maaf, aku cuma mau kamu buat hati-hati. Inget pengalaman kamu sama Ofisa. Saat perempuan sudah punya uang sendiri, dia pasti menginginkan hal lain dari laki-lakinya.” Sigra berdiri dan meninggalkan Endra yang gelisah.

Sementara itu, Wafa juga mengalami hari yang tidak cukup baik. Hari itu Wafa pergi ke rumah Kesara untuk mengantarkan gaun malam yang dipesan Kesara. Pembantu Kesara yang membukakan pintu dan mempersilahkan Wafa masuk. Pembantunya mengatakan bahwa Kesara sedang menerima tamu dan akan memberitahukan kedatangan Wafa pada Kesara.

Karena Wafa sudah biasa berkunjung ke rumah Kesara, Wafa pun masuk ke ruang tengah. Disana dia melihat Kesara sedang berbicara dengan dua orang perempuan. Keduanya terlihat masih sangat muda dan dari raut wajahnya, terlihat dua perempuan itu sedang kesal.

“Pokoknya aku mau cerai sama kakak kamu.” Seorang perempuan berteriak marah hingga terdengar oleh Wafa.

“Aku juga.” Seorang perempuan lagi juga berteriak.

“Itu hak kalian, tapi kalian harusnya bicara langsung sama Mas Endra, bukan sama aku.” Kali ini terdengar suara Kesara. Jantung Wafapun berdetak lebih kencang saat mendengar nama Endra disebut. Berarti kedua perempuan tersebut adalah istri-istri siri Endra.

“Mas Endranya nggak mau nemuin kita… Ada aja alasannya.” Istri Endra yang terlihat masih sangat muda berbicara dengan nada tinggi.

Kesara melihat pembantunya yang berdiri mematung di dekat pintu. “Ada apa mbak?”

“Eh itu… ada Mbak Wafa.. nganterin baju.” Pembantunya berbicara sedikit terbata karena takut mengganggu.

Kesara terkejut karena bisa ada masalah baru jika Wafa tahu bahwa disini ada dua orang istri Endra. “Oh.. suruh tunggu aja, tolong bikinin minum ya.” Kesara memberi perintah pada pembantunya yang hanya menggangguk dan segera pergi.

“Ya udahlah… kita pergi aja sekarang. Kamu bilangin yang tadi kita minta sama Mas kamu itu.” Istri Endra yang terlihat lebih tua mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Kesara diikuti oleh istri Endra yang muda.

Kesara menarik nafas dan pergi menemui Wafa.

“Tadi itu istri-istri Endra?” Wafa langsung bertanya begitu melihat Kesara.

“Kamu denger?” Kesara langsung merasa tidak enak hati.

“Mereka teriak begitu, masa aku nggak denger.”

Kesara mendekat dan duduk di dekat Wafa. “Iya. Seperti yang kamu denger, mereka minta cerai.”

“Emang kenapa?”

“Sejak Mas Endra sama kamu, Mas Endra nggak pernah nemuin mereka lagi. Mereka protes, Mas Endra nggak peduliin mereka lagi. Gitu deh.” Kesara merasa tidak nyaman dan tidak suka dengan keadaan seperti ini.

Wafa senang mendengar cerita Kesara karena hal itu menunjukkan bahwa rencananya hampir berhasil. Tetapi dia juga merasa tidak enak pada istri-istri Endra. Mereka tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti ini dari Endra.

Wafa tidak mau membahas ini lebih lanjut dengan Kesara yang juga terlihat tidak nyaman, akhirnya dia membicarakan gaun yang dipesan oleh Kesara dan segera pulang dengan alasan banyak kerjaan.

***

Saat malam sudah begitu gelap, Endra kembali berpikir tentang Wafa. Sebenarnya tadi pagi Wafa sudah mengatakan jika Endra tidak perlu datang karena Wafa tau Endra begitu sibuk dan Wafa pun sibuk. Namun, perkataan Sigra tadi pagi begitu mengganggu pikirannya. Dia harus bertemu Wafa walaupun sudah terlalu malam untuk berkunjung.

Jam menunjukkan pukul satu malam. Endra menekan bel dan menunggu Wafa membukakan pintu. Endra berharap Wafa belum tidur.

Wafa terkejut mendengar suara bel. Dia belum tidur karena pekerjaannya cukup banyak dan pikirannya juga terganggu oleh bayangan istri-istri Endra. Wafa melangkah ke pintu dan melihat dari lubang. Ada Endra di luar.

Wafa membuka pintu dan menyambut Endra dengan perasaan yang sedikit tidak enak. “Hei.. kok malem-malem kesini?” Walaupun Endra sering datang malam, tapi ini terlalu malam. Selain itu, raut muka Endra terlihat muram.  

“Aku mau ketemu kamu.” Endra menatap Wafa dalam-dalam. Walaupun terlihat sekali kelelahan pada wajah Wafa, perempuan ini benar-benar cantik dan selalu bisa membuat hati Endra begitu bahagia setiap kali melihatnya. Kegalauan melanda hati Endra, dia tidak yakin dengan apa yang akan dia lakukan.

Wafa yang masih terkejut dengan kedatangan Endra berdiri mematung tanpa kata. Ada firasat buruk yang tiba-tiba muncul.

“Aku pulang ya.” Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut Endra yang begitu ragu untuk melanjutkan rencananya semula.

Wafa heran melihat kelakuan Endra. Memang, Endra memang pernah melakukan ini sebelumnya. Dia datang tengah malam hanya untuk bertemu sebentar dan kemudian pulang. Tapi waktu itu Endra memang telah berjanji untuk datang. Kali ini, dia tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan dan terlihat kebingungan di matanya. Hati Wafa merasa tidak enak dan jantungnya mulai berdetak lebih kencang.

“Masuk dulu yuk.” Wafa mengajak Endra masuk karena ingin tahu ada apa sebenarnya.

Suasana hati Endra sedikit berubah saat Wafa mengajaknya masuk. Tiba-tiba dia ingin menggoda Wafa. Mood Endra memang selalu naik turun semenjak bertemu dengan Wafa. “Kayaknya ada yang mau macem-macem nih.”
“Endra apaan sih. Kamu masuk dulu, istirahat bentar, baru nanti pulang.” Wajah Wafa berubah menjadi cemberut, tetapi tetap terlihat kekhawatirannya. “Kamu keliatan capek banget, kalo nyupir bahaya.”

Wafa menarik tangan Endra yang mengikutinya masuk.  Wafa meminta Endra untuk duduk di sofa. “Aku bikinin kopi ya biar kamu nggak ngantuk di jalan.”

Endra hanya mengangguk. Dia memang sangat lelah sekali hari ini. Tetapi dia tetap harus bertemu Wafa seberapapun lelahnya ia agar kegelisahan dalam hatinya bisa hilang. Terbukti bahwa hanya dengan melihat wajah cantik Wafa, Endra mulai merasa lebih nyaman. Dengan kegelisahan yang berangsur menghilang, Endra mulai merasa kantuk dan akhirnya tertidur.

Wafa selesai membuat kopi dan membawanya ke ruang tengah. Langkahnya terhenti saat dilihatnya Endra telah tertidur di sofa. Wafa mendekat dan meletakkan cangkir kopinya di meja. Diperhatikannya wajah Endra. Sebenarnya, Wafa ingin sekali menyentuh wajah Endra, tetapi dia tidak mau membangunkan Endra yang terlihat begitu lelah.

Wafa memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya. Sesaat kemudian dia merasa begitu lelah dan ingin beristirahat, tapi ada Endra di rumahnya. Dilihatnya Endra tidur dengan lelap. Tidak mungkin dia membangunkan Endra dan menyuruhnya pulang. Akhirnya Wafa memutuskan untuk membiarkan Endra tidur. Lagipula Endra kan suaminya, tidak ada salahnya jika dia tidur disini, di rumah istrinya sendiri. Wafa mengunci pintu apartemen, kemudian mengambil selimut. Diselimutinya Endra dengan sangat hati-hati. Setelah memandangi Endra sebentar, Wafa pun masuk kamar dan tidur.

Saat subuh, Endra dibangunkan oleh suara perempuan mengaji. Dirumahnya tidak ada perempuan, semua pembantunya laki-laki dan mereka tidak suka mengaji. Dia pun teringat bahwa tadi dia baru saja menemui Wafa. Endra langsung bangun dan duduk. Dilihatnya sekeliling ruangan, secangkir kopi di meja, dan selimut yang terjatuh. Dilihatnya jam dan dia tidak mempercayai matanya. Dia tertidur sampai pagi di rumah Wafa. Berarti perempuan yang sedang mengaji itu Wafa?

Suara Wafa terdengar indah sekali, hati Endra pun tergetar mendengarnya. Endra berdiri dan melangkahkan kaki ke tempat suara mengaji itu. Kamarnya tertutup. Seketika Endra menjadi resah kembali. Semuanya menjadi aneh baginya. Sandra benar bahwa Wafa adalah perempuan alim, tapi Sigra juga benar. Jika Wafa memang alim, mengapa Wafa mau berhubungan dengan dirinya?

Endra tidak bisa berhenti berpikir. Ia kemudian melangkahkan kaki ke kamar mandi. Ia mau berwudhu. Mendengar Wafa mengaji dan kegalauan yang melandanya membuat ia ingin menyembah Tuhannya untuk mendapatkan ketenangan. Endra berwudhu dengan perlahan, prasangka dan pertanyaan masih memenuhi otaknya. Selesai berwudhu, Endra keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan.

Wafa yang baru saja selesai mengaji keluar kamar untuk melihat keadaan Endra. Saat melihat wajah Endra yang basah saat keluar dari kamar mandi, Wafa bertanya, “Mau sholat ya?”

“Eh .. iya.” Endra menjadi gugup saat melihat Wafa.

“Di kamar sana aja kayak biasa.” Wafa menunjuk sebuah kamar yang biasa digunakan Endra untuk beribadah saat berkunjung ke apartemen Wafa. “Bentar ya aku ambilin sajadah soalnya kemaren habis dicuci.” Wafa kembali bersama sajadah dan memberikannya kepada Endra yang menerimanya dan segera memasuki kamar yang ditunjuk.

Selesai sholat, Endra keluar kamar. Dilihatnya Wafa sedang sibuk di dapur. Endra pun mendekat. “Maaf ya aku ketiduran.” Endra malu sekali. Baru kali ini ia tertidur dirumah perempuan.

“Nggak papa kok.” Wafa menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “Tadi malem kamu tidurnya pules banget, aku nggak tega banguninnya.”

Endra tersenyum tipis.

 “Kamu mau sarapan apa? Aku buat krim sup sama French toast. Mau?” Wafa menawarkan.

“Udah numpang tidur, dapet sarapan gratis lagi.” Endra melihat jamnya. “Emang nggak kepagian sarapan jam segini?”

“Kamu kan harus pulang buat ganti baju sebelum ke kantor. Ya aku masak aja sekarang biar kamu sarapan dulu.” Wafa terus sibuk dengan masakannya.

Endra menatap perempuan dihadapannya. Ia ingin sekali memeluk Wafa, tetapi setelah mendengar Wafa mengaji, dia merasa tidak nyaman dengan semua ini. Kali ini dia merasa begitu berdosa. Walaupun mereka tidak pernah tidur bersama, dia merasa telah menodai wanita yang suci dengan apa yang dilakukannya selama ini pada Wafa. Tapi apa benar dia itu suci? Jika benar Wafa masih suci, mengapa dia mau dipeluk dan dicium?

“Kok malah berdiri bengong gitu sih? Kamu mau minum apa?” Wafa menarik salah satu kursi di meja makan. “Duduk sini.” Kemudian Wafa kembali memasak.

“Iya.” Cuma itu yang bisa diucapkan Endra. Dia masih merasa sangat tidak enak, resah, dan gelisah.

“Cobain deh..” Wafa menyodorkan sendok berisi krim sup yang dibuatnya.

Endra mengambil sendok dan merasakan supnya.

“Kurang apa?” Wafa memperhatikan wajah Endra untuk melihat reaksinya.

“Nggak kurang apa-apa. Enak.” Endra tersenyum.

Wafa mematikan kompornya dan mulai menyajikan makanan. “Kamu kalo pagi minum susu nggak?”

“Kadang-kadang aja. Aku biasanya minum kopi.” Endra menjelaskan.

“Kalau pagi jangan langsung minum kopi sebelum makan. Nggak bagus buat lambung.” Wafa meletakkan gelas minum berisi air putih dan duduk dihadapan Endra.

Endra tersenyum, dalam hatinya dia yakin bahwa jika Wafa menikah, ia akan menjadi istri yang baik. Namun, hatinya menjadi sesak saat memikirkan tentang Wafa sebagai istri. Endra merasa begitu bersalah telah menjerumuskan Wafa ke dalam hidupnya yang tidak karuan. Wafa berhak mendapat perlakuan yang lebih baik. Wafa tidak layak menjadi wanita simpanan.

“Kok bengong lagi sih? Mikirin apa?” Wafa menatap dalam-dalam lelaki yang terlihat begitu gelisah sejak tadi malam. “Mikirin istri kamu yang lagi nungguin kamu ya?” Wafa kembali teringat istri-istri Endra yang dilihatnya di rumah Kesara. Hatinya mendadak terasa sakit.

Endra tersentak. “Enggak.. enggak kok.” Endra menggelengkan kepalanya. Dia begitu terkejut. Mengapa Wafa tiba-tiba membicarakan istrinya?. “Aku masih ngantuk aja.” Endra berkilah dan mengalihkan perhatiannya pada sarapan yang ada di depannya. Galau, bingung, gelisah, takut, dan berbagai perasaan aneh dirasakannya.

Endra dan Wafa sarapan tanpa banyak bicara. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Selesai sarapan, Endra langsung pulang. Setelah sekian lama merasakan kebahagiaan, baru kali ini mereka merasa tidak yakin dengan hubungan yang mereka jalani.

___________________________________________________
 Prolog                << Bab Sebelumnya        Bab Selanjutnya >>                


 Beranda

Kamis, 14 Agustus 2014

Perselingkuhan Terakhir - BAB V



Bab V

Perasaan Wafa campur aduk. Ciuman di pipinya tadi malam tidak bisa hilang dari ingatannya. Itu ciuman pertama dari suaminya dan rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Dia menyentuh pipinya dan merasakan cinta yang begitu dalam. Walaupun dia sendiri sebelumnya sudah pernah mencium Endra, tetapi perasaan saat dicium sangatlah berbeda dengan mencium.  Terlebih lagi, suasana tadi malam dan lembutnya tatapan Endra membuat Wafa melayang.

Namun, masih ada rasa takut dalam hati Wafa. Ia takut jika hanya dia yang merasakan kebahagiaan ini sedangkan Endra hanya menganggapnya ciuman biasa. Bukankah saat ini ciuman di pipi sudah menjadi gaya hidup orang perkotaan? Biasanya disebut cipika cipiki. Sudah tidak ada lagi rasa malu bagi seorang laki-laki untuk mencium perempuan yang bukan muhrimnya, begitu pula sebaliknya. Yah, gaya hidup dunia barat memang telah banyak mempengaruhi kehidupan negara yang dikatakan sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Banyak yang tidak menganggapnya dosa karena dianggap tidak ada nafsu saat mereka melakukannya. Ciuman di pipi hanya dianggap sebagai ungkapan salam.

Bagaimana jika ciuman tadi malam memang hanyalah ucapan selamat malam? Dengan istri yang banyak, tentunya sudah ribuan kali Endra mencium pipi perempuan. Dengan kenyataan bahwa Endra tidak mengetahui bahwa yang diciumnya tadi malam adalah istrinya sendiri, sangat besar kemungkinan bahwa Endra melakukannya sebagai kebiasaan yang dilakukannya pada perempuan-perempuan lain.

Pikiran Wafa terus saja dipenuhi prasangka. Yang lebih buruk adalah prasangka jika ciuman itu sebuah ciuman perpisahan. Endra kan mengatakan kalau dia tidak bisa menemuinya hari ini. Itu seperti sebuah tanda jika Endra tidak akan menemuinya lagi selama-lamanya. Tadi malam kan Endra tiba-tiba langsung ingin pulang saat ditanya tentang pekerjaan. Mungkinkah Endra tersadar bahwa dia telah melakukan kesalahan dan membuang-buang waktunya yang berharga? Wafa menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengingatkan Endra tentang pekerjaan.

Memang Endra mengatakan akan menghubunginya hari ini. Tapi Wafa tau pasti bahwa banyak sekali pria menggunakan janji tersebut sebagai ucapan selamat tinggal. Oleh karena itu, Wafa tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Dia begitu gelisah menunggu telepon dari Endra. Sudah jam lima sore dan belum ada panggilan atau bahkan SMS dari Endra. Jika Endra tidak menelepon, berarti semua berakhir dengan cerita sedih.

Ditempat lain Endra begitu sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk. Harus diakui bahwa kencannya dengan Wafa beberapa hari ini memang sedikit mengganggu jadwal kerjanya sehingga banyak kerjaan yang terabaikan.

“Kamu nggak kencan sama gadis spesial kamu?” Sigra langsung masuk ruangan Endra tanpa mengetuk.

“Nggak.” Endra menjawab singkat sambil terus bekerja dengan laptopnya.

“Tumben, biasanya jam segini udah ga sabar mau kencan. Udah ilang nafsunya?” Sigra yang tidak pernah berhenti dengan sindirannya duduk di depan meja Endra.

“Aku harus meeting.” Endra masih saja sibuk dengan laptopnya.

“Masih peduli sama kerjaan?” Sigra memperhatikan dokumen-dokumen yang berantakan di meja.

“Kerjaan itu nomor 1.”

“Berarti Wafa nomor 2 dong? Kasian… Kalau tau, dia pasti nangis sekarang.” Sigra memperlihatkan muka yang dibuat sedih.

“Ya ampun.” Endra menjadi teringat dengan janjinya. Pasti Wafa sedang menunggu telponnya saat ini. Dia segera mengambil handphonenya. Tapi sebelum menelpon, “Awas aku dah janji mau telfon Wafa.” Endra mengusir Sigra.

Sigra menunjuk dirinya sendiri.

“Iya .. keluar sana.” Bukan hanya mulut, tangan Endra pun memperlihatkan pengusiran.

Sigra melangkah keluar. Sungguh aneh. Biasanya Endra justru senang menelpon wanita di depan Sigra. Endra senang memamerkan kemesraannya dengan wanita. Tapi kali ini… dia ingin privacy.

Wafa yang sedari tadi menunggu dengan khawatir begitu gembira melihat siapa yang menelponnya. Dia sampai melompat ketika melihat nama Endra di layar handphonenya. Kegelisahannya langsung hilang seketika.

“Halo.” Wafa menjawab dengan setenang mungkin. Dia berusaha keras menahan emosinya yang meluap.

“Hai.”. Suara Endra terdengar sangat menggetarkan hati. “Maaf ya baru sempat nelfon. Kerjaan aku banyak banget.”

“Katanya mau video call.” Wafa protes seperti anak kecil.

“Hah? Oooh..video call ya? Lupa.. tadi soalnya buru-buru.”

“Buru-buru apa?”

“Buru-buru mau denger suara kamu yang manis.” Rayuan Endra pun dimulai.

“Gombal mulu. Dalam sungutannya, Wafa bahagia dengan gombalan Endra.

“Ya udah.. aku matiin dulu, nanti aku video call.”

“Ehh jangan.. “ Wafa segera mencegah Endra.

“Yang protes tadi siapa ya?”

“Bukan protes, cuma tanya.”

“Emang kamu nggak pengen liat aku?” Goda Endra.

“Mmmm… denger suara kamu udah cukup kok.” Wafa menjawab malu-malu. Dia takut jika Endra melihat wajahnya saat ini, akan terlihat sekali kegugupannya. Bisa dipastikan rencananya untuk menaklukkan Endra gagal karena Endra terlebih dahulu menaklukkannya.

Aku yang pengen liat kamu. Endra berpikir sebentar. “Kamu kalau tidur jam berapa?”

“Kok tiba-tiba nanyain tidur? Emang mau ngapain?”

“Gimana ya ngomongnya… ehmmm… aku kan ada meeting sampe malem. Ya kira-kira sampe jam sepuluh lah. Kalau jam sebelas kamu belum tidur, aku mau kesana.”

Wafa lebih terkejut lagi. Endra akan datang jam sebelas malam? Untuk apa? Wafa tidak bisa menjawab, dia terdiam tanpa kata.

“Haloo…” Endra memanggil Wafa yang tidak kunjung menjawab.

“Eh… e..mang.. mau.. ngapain?” Wafa terbata. Jantungnya berdetak kencang.

“Mau ngeliat muka kamu.”

“Habis liat muka aku ngapain?” Dengan jantung yang masih berdetak kencang, kegugupan Wafa bertambah karena Endra tidak kunjung menjawab.

“Pulang.” Endra akhirnya menjawab setelah berpikir sebentar.

“Gitu doang?” Wafa berpikir apa dirinya yang kurang bergaul sehingga tidak percaya bahwa ada seorang laki-laki yang datang berkunjung ke tempat seorang perempuan di tengah malam hanya untuk melihat wajah perempuan itu.

Endra juga merasa aneh dengan keinginannya yang tidak kuasa ditahannya. Namun, dia tidak ingin menunjukkan perasaannya. Endra memilih untuk menggoda Wafa. “Emang kamu mau lebih?”

“Ya .. ya nggak lah… Endra apaan sih … mikirnya macem-macem.” Muka Wafa memerah. Untung tidak ada orang didekatnya.

“Kalau ngeliat kamu aja nggak cukup, harus macem-macem dong.” Endra begitu senang menggoda Wafa yang mudah sekali menjadi salah tingkah saat digoda. Andai saja dia bisa melihat muka Wafa, tentunya akan lebih seru lagi.

“Endra.. aaaahh.”

“Macem-macem kan bisa banyak hal. Misalnya kamu masakin aku lagi, nonton TV, denger lagu,… banyak kan?” Jelas sekali jika Endra memang jauh lebih berpengalaman dan pintar.

“Tau ah…” Wafa menyerah.

Endra tertawa lepas. “Jadi gimana?”

“Apanya yang gimana?” Wafa benar-benar tidak bisa berpikir. Otaknya seketika menjadi kosong.

“Kamu masih bangun nggak?”

Bodoh kalau sampai Wafa berkata ‘tidak’, tetapi mulutnya tidak sanggup untuk berkata ‘iya’.

“Wafa….?”

“Iya.. iya.. aku masih bangun.” Wafa memberanikan diri.

“Oke… sampe nanti malem ya sayang…. Udah dulu ya … aku harus siap-siap meeting lagi.”

***

Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan Wafa masih gelisah menunggu datangnya sang pujaan hati. Jangan-jangan Endra mengubah pikirannya dan tidak jadi datang. Jarak kantor Endra dengan apartemennya tidak terlalu jauh dan malam seperti ini tentunya sudah tidak macet.

Tidak ada satupun acara TV yang menarik perhatiannya. Koleksi filmnya sudah ditonton semua. Wafa juga tidak ingin mendengar lagu. Yang ada dipikirannya hanya Endra, tetapi pria itu tidak kunjung datang.

Sementara itu Endra baru saja menyelesaikan meeting yang ternyata berjalan di luar rencananya. Kliennya kali ini sangat sulit untuk ditaklukkan. Ia melihat jamnya. Setengah dua belas, berarti dia sudah terlambat setengah jam. Kalau dia berangkat sekarang, mungkin dia bisa sampai jam 12. Tetapi apa tidak terlalu malam?

Endra tidak peduli. Dia hanya ingin bertemu Wafa. Kalau ternyata Wafa sudah tidur ya sudah. Dia menyalakan mobilnya dan segera meluncur ke apartement Wafa.

Wafa tertidur di sofa saat bel berbunyi. Dia terbangun dan langsung berdiri dengan penuh semangat karena dia yakin yang datang adalah Endra. Dirapikannya rambutnya dan segera melangkah ke pintu. Dia menarik nafas dalam-dalam dan melihat dari lubang pintu untuk memastikan bahwa itu adalah Endra. Yap… dialah sang pangeran yang ditunggu.

Tanpa kata-kata Endra langsung memeluk Wafa setelah pintu terbuka. Setelah telpon tadi, dia begitu merasakan rindu walaupun baru satu hari mereka tidak bertemu. Wafapun merasakan hal yang sama dan terlupa bahwa saat ini seharusnya dia menahan diri karena Endra masih belum mengetahui bahwa ia adalah istrinya.

Setelah beberapa lama, Endra melonggarkan pelukannya. “Maaf ya aku telat. Tadi meetingnya alot banget. Kamu udah tidur ya?”

“Nggak papa kok. Yang penting kan kamu dateng.” Wafa menatap Endra. Dilihatnya wajah Endra begitu lelah. “ Kamu kelihatan cape banget.”

“Meetingnya banyak banget dari tadi pagi.” Kata Endra sambil membelai rambut Wafa yang begitu halus.

Wafa teringat bahwa Endra hanya ingin melihat wajahnya dan pulang, tetapi sepertinya Endra terlalu lelah untuk menyetir saat ini. “Kamu bawa supir?”

“Enggaklah. Emang kenapa?”

“Kalau kamu harus nyetir sekarang nanti takutnya ada apa-apa di jalan.” Wajah Wafa terlihat khawatir.

“Trus?”

“Masuk dulu yuk. Istirahat bentar. ” Wafa memegang tangan Endra mengajaknya masuk ke dalam apartemen.

“Kamu mau macem-macem ya?” Endra tersenyum genit.

“Endraaaa….Ya udah sana pulang aja.” Wafa kesal sekali dengan godaan Endra.

“Gitu aja ngambek.” Endra menggenggam tangan Wafa. “Aku pulang aja ya.. udah malem banget. Kalau masuk, nanti aku nggak mau pulang” Endra kembali tersenyum genit.

Wafa salah tingkah. “Ya..ya udah deh kalau maunya gitu.”

“Sayang….” Endra menyentuh wajah Wafa dengan lembut sehingga membuat jantung Wafa berdetak kencang lagi seperti semalam.

Endra mencium kening Wafa dan pergi meninggalkan Wafa yang masih kesulitan untuk menormalkan kembali detak jantungnya.

Saat melangkah pergi, Endra tidak menyangka bisa melakukan hal seperti ini. Mendatangi wanita tengah malam hanya untuk melihat wajahnya dalam beberapa menit dan dia sudah puas dengan itu.

***

Keesokan harinya Sigra mendatangi ruangan Endra untuk menyerahkan beberapa berkas. Dia melihat sepupunya sedang melamun.

“Pasti lagi ngelamunin gadis cantik desainer muda.” Sigra menebak sambil meletakkan berkas di atas meja Endra.

Endra yang tidak menyadari bahwa sepupunya ada di ruangannya terkejut dan menoleh. “Hehh?”

“Kalau orang sedang jatuh cinta, dunia hanya milik berdua.” Sigra tersenyum sambil berusaha menahan tawa.

“Siapa yang jatuh cinta?” Endra mengambil berkas yang diletakkan Sigra dan memeriksanya.

“Aku jadi pengen ketemu sama dia, siapa namanya? Wafa?”

“Boleh.” Endra menganggukkan kepalanya.

“Semangat banget.” Sigra memutar kepalanya dan memperhatikan ruangan Endra. “Kok nggak ada fotonya?”

“Ngapain taro foto disini.” Endra yang tersenyum langsung muram.

“Kalau jatuh cinta kan pengennya liat terus.” Sigra tidak bisa menahan tawanya.

“Aku tidak jatuh cinta.” Nada suara Endra meninggi.

“Oke-oke..” Sigra mengangkat kedua tangannya. “Jadi kapan aku bisa ketemu dia?”

“Besok gimana? Nonton di rumah aku?”

“Boleh. Jam sepuluhan ya?”

“Jangan lupa ajak Yuvi”

“Oke boss.” Sigra meninggalkan ruangan Endra.

Malamnya Endra mengunjungi butik Wafa dan melihat wanita pujaannya sibuk menata koleksi terbarunya.

“Besok kamu ada acara nggak?” Endra bertanya sambil memperhatikan Wafa yang sibuk memindahkan gantungan baju.

“Ya … kalau malem ini beres-beresnya selesai, besok aku bebas.” Jawab Wafa tanpa menoleh.

“Kalau gitu harus selesai malem ini.” Nada bicara Endra santai tetapi gaya bossy nya tidak hilang.

“Perasaan yang boss disini aku deh. Kamu kalau mau ngatur, perusahaan kamu aja.” Kali ini Wafa menoleh dan menatap tajam mata Endra.

“Gitu aja marah.” Endra merajuk untuk meredam emosi Wafa.

“Emang ada apa besok?” Wafa masih emosi. Sebenarnya dia tidak suka diganggu saat bekerja sehingga perkataan Endra yang sebenarnya biasa saja menjadi luar biasa menjengkelkan.

“Sepupu aku pengen kenal sama kamu. Kalau kamu bisa, besok jam sepuluh kita nonton.”

“Sepupu kamu?” Wafa menoleh. Dia mulai tertarik dengan pembicaraan ini.

“Iya.. namanya Sigra. Dari kecil kita deket. Udah kayak kakak ade kandung.”

Wafa tertarik mendengar hal tersebut. Dia belum pernah bertemu dengan Sigra, tapi dia tahu dari Kesara kalau Sigra itu adalah sepupu yang sangat dekat dengan Endra karena umur mereka tidak berbeda jauh dan mereka selalu satu sekolah sejak kecil. Ini bisa menjadi jalan untuk mengenal Endra lebih jauh lagi. “Oke. Kamu jemput aku?”

“Yap, tapi jam sembilan udah siap ya. Kan janjian sama Sigra jam sepuluh.”

“Oke.”

Pagi harinya, Endra menjemput Wafa yang tampil santai dengan kaos lengan pendek dan jins. Sementara Endra mengenakan kemeja dan celana panjang.

“Kok rapi banget. Bukannya kita mau nonton ya?” Wafa merasa salah kostum dan merasa tidak yakin dengan tampilannya.

“Ohh tadi aku ada meeting dulu sama rekanan.” Jawab Endra sambil berjalan menuju tempat parkir.

“Katanya Sabtu libur, lagian pagi banget meetingnya?”

“Dia mau pergi ke Padang, pesawat jam 9, jadi tadi aku ketemuan jam 7 di bandara.”

“Buset.. segitunya ya bisnis.” Wafa hanya bisa menggelengkan kepala.

Endra tersenyum. Dia memperhatikan Wafa dan dirinya sendiri. Gaya santai Wafa memang tidak cocok dengan gayanya saat ini. Agar tidak terlalu formal, dia menggulung lengan kemejanya.

Endra melihat Wafa tersenyum melihatnya. “Kok senyum-senyum sih?” Endra melihat dengan curiga.

“Enggak.” Wafa berusaha berbohong.

“Kamu bukan orang yang pintar berbohong.” Endra menghentikan langkahnya.

“Enggak..mm.. aku cuma suka aja sama cowok yang pake kemeja terus lengannya digulung gitu.” Wafa tersenyum manis sekali.

“Hah?” Endra tidak percaya.

“Beneran. Aku dari dulu suka banget kalau liat cowok gitu. Kerennnn gitu loh.”

“Harus kemeja digulung gitu?” Endra masih tidak percaya.

“Iya kemejanya lengan panjang, terus digulung.”  Wafa mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau lengan panjang nggak digulung nggak suka?”

“Terlalu formal. Kalau digulung tuh keliatannya rapi tapi santai.”

“Kalau lengan pendek?”

“Kaya bapak-bapak.”

Endra tertawa. “Berarti besok kalau aku ketemu kamu pake kemeja lengan digulung aja ya?

“Perfect.” Wafa menggandeng lengan Endra dan melanjutkan berjalan ke tempat parkir.

Endra heran, hanya sekedar menggulung lengan kemeja saja sudah bisa membuat Wafa tersenyum. Mudah sekali membuat wanita ini bahagia.

Tidak seperti perkiraan Wafa, Endra ternyata membawa Wafa ke rumahnya. Wafa pun menjadi  bingung. “Kok ke rumah kamu? Mau ganti baju dulu?”

“Ngapain ganti baju, kan kamu sukanya begini?” Endra memarkirkan mobilnya. “Kita nontonnya disini.”

“Nonton DVD gitu maksudnya?”

“Blu Ray dong sayang… hari gini DVD.” Endra membuka pintu dan segera berlari untuk membukakan pintu Wafa.

“Ya terserah lah.. yang penting kan di rumah, bukan di bioskop.” Wafa keluar mobil dan mengikuti Endra berjalan ke rumah.

“Enakan di rumah, lebih bebas.”

Belum sampai mereka masuk ke dalam rumah, terdengar suara mobil datang. Sigra datang bersama Yuvi, istrinya.

“Ini dia pasangan cinta sejati kita.” Endra menyambut sepupunya.

Sigra hanya tersenyum sambil menatap Wafa.

“Wafa ini Sigra dan istrinya Yuvi, guys ini Wafa.” Endra memperkenalkan.

“Hai. Wafa.” Wafa mengulurkan tangan pada Sigra.

“Aku Sigra.” Sigra menjabat tangan Wafa.

“Hai. Yuvi”. Giliran Yuvi yang menjabat tangan Wafa.

“Kayaknya pernah ketemu deh.” Sigra merasa mengenal wajah Wafa walaupun sedikit kurang yakin. “Mmm… Ah.. Dirumah Om Wira. Aku pernah liat kamu di rumah Om Wira.”

Wafa terkejut bercampur takut. Ia merasa belum pernah melihat Sigra tetapi mengapa dia bilang pernah ketemu.

“Oohh Wafa itukan desainernya Mama, makanya dia sering ke rumah. Berarti kamu kesana pada waktu yang pas.” Endra memotong.

“Tapi kayaknya aku belum pernah ketemu kamu.” Wafa yakin belum pernah bertemu Sigra sebelumnya.

“Aku yang liat kamu, waktu itu kamu lagi sama Om.” Sekarang Sigra ingat sekali dengan kejadian itu, tetapi dia tidak ingin membuat masalah. “Aku buru-buru waktu itu jadi nggak sempet kenalan.” Sigra berusaha berbicara dengan santai agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Wafa menjadi khawatir. Apa yang Sigra lihat waktu aku bersama Bapak? Namun, melihat gaya Sigra yang santai, kekhawatiran Wafa sedikit berkurang.

Mereka pun kemudian masuk rumah.

“Mau santai-santai dulu ato langsung nonton aja?” Endra, sang tuan rumah bertanya kepada tamu-tamunya.

“Langsung nonton aja deh, film yang kemaren itu loh.” Sigra langsung menjawab dengan penuh semangat.

“Itulah Sigra, kalau urusan film nggak sabaran.” Kata Yuvi sambil melihat ke arah Wafa.

Wafa hanya tersenyum. Dia berusaha untuk mengikuti alur saja dan bertindak senormal mungkin dalam mendekatkan diri dengan orang-orang yang disayangi oleh Endra.

Ternyata Endra memiliki ruangan home theater khusus dengan layar super besar dan sofa-sofa yang ditata apik. Tidak heran jika pengusaha muda sukses seperti dia bisa memiliki bioskop pribadi di rumahnya dengan koleksi film yang luar biasa banyaknya. Pantas saja Endra lebih suka menonton di rumah.

Hari itu semua bergembira. Tidak hanya menonton film, mereka juga menghabiskan waktu untuk melakukan berbagai macam hal sampai malam. Wafa merasa senang bisa mengenal Sigra yang ternyata begitu baik, sangat bersahabat, dan juga lucu.

Setelah makan malam, Sigra dan istrinya pamit pulang. Endra juga mengantar Wafa pulang. Dalam perjalanan, Sigra membahas Wafa dengan istrinya.

“Aku masih nggak ngerti kenapa Wafa mengejar Endra.” Kata Sigra sambil menyetir.

“Ya ampun.. keliatan banget lagi kalau Wafa itu jatuh cinta sama Endra.” Yuvi melihat ke arah Sigra berusaha meyakinkan.

Sigra menggeleng. “Pasti ada yang lain…pasti ada yang disembunyiin sama cewek itu.”

“Kasar banget sih ngomongnya, dia punya nama kali. Namanya Wafa.”

“Kamu nggak tau sih.” Sigra melihat sebentar kearah istrinya dan kembali memperhatikan jalan.

“Kalau gitu kasih tau dong.” Yuvi menjadi penasaran. Tidak biasanya suaminya berpikir buruk tentang seseorang yang baru dikenalnya. Walaupun Sigra merasa ada yang tidak benar, dia akan mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu sebelum membicarakan kecurigaannya pada orang lain, walaupun orang lain itu istrinya sendiri.

“Waktu aku liat dia sama Om Wira mereka lagi pelukan.” Sigra menatap Yuvi yang begitu terkejut.

_________________________________________________
Prolog            <<  Bab Sebelumnya          Bab Selanjutnya  >>
 


 Beranda